Home

Teriknya matahari hari itu menandakan siang segera berganti dengan sore. Terik dan panas, namun nikmat. Pepohonan kurus di sepanjang jalan semakin menegaskan bahwa daerah itu mendapat curah panas yang (sepertinya) memang berlebih dibandingkan bagian lain di Kota Yogyakarta. Polusi suara yang berlebih seakan menambah bisingnya hari, terik semakin terasa, suara para pedagang yang menjajakan dagangannya beradu dengan klakson dari kendaraan yang lalu lalang dengan alot di jalan sempit yang sedang kulewati: jalan persis di depan stasiun. Dengan langkah yang agak terburu-buru aku menuju ke Loket karcis dan membeli 1 lembar karcis PRAMEX jurusan Yogyakarta-Solo. Jam dinding di Stasiun lempuyangan saat itu menunjukkan pukul 14:38, sedangkan jam keberangkatan kereta yang tertera di karcisku 14:41. Yap, masih ada beberapa menit…nyaris…

This is the first time for me..naik kerata sendirian!! Sebelumnya pernah 1 kali naik kereta Jakarta-Pekalongan, tapi tidak sendirian, saat itu bersama Ibu. Alhamdulillah..PRAMEX is so good ^^b . Aku masuk ke Peron dan langsung naik ke gerbong berwarna pink. Setelah kubaca, ada tulisan yang membuatku senang : ”KERETA KHUSUS WANITA”. Yaps, aku anggap ini sebagai hal yang keren, artinya ada perhatian khusus untuk para penumpang wanita agar tidak terlalu berdesakan dengan penumpang lain. Setidaknya di gerbong yang satu ini.

Keretapun mulai berjalan. Tidak seperti bayanganku tentang kereta ekonomi, kereta ini sangat lenggang, hanya ada beberapa orang didalamnya. Kukira, jumlah manusia tidak sampai angka 30 dalam satu gerbong itu. Seorang wanita yang duduk di sampingku tertidur pulas. Aku menikmati perjalanan menuju solo ini denan damai dan sesekali memperhatikan orang-orang yang ada disekitarku. Kebanyakan dari mereka diam, atau tertidur.

1 jam berlalu, pukul 15:50 aku sampai di stasiun SoloJebres, stasiun yang paling timur di Kota Solo, tepat setelah stasiun SoloBalapan. Bisa dibilang stasiun ini lumayan kecil, hampir sama kecilnya seperti stasiun Lempuyangan. Lantai yang berwarna coklat tua berpadu dengan kursi kayu yang dicat hijau tua memberikan kesan alami dan hangat. Apalagi, sore itu terasa agak dingin. Dingin bukan karena udaranya ya yang  dingin, namun karena langit mendung dan awan yang hitam. Terasa menyenangkan dan menenangkan. Dengan langkah santai aku menuju Loket tempat pembelian karcis. Petugas loket menyodorkan karcis SoloJebres-Pekalongan dan aku membayar sebesar 29 ribu rupiah.

Satu jam aku harus menunggu kereta Brantas tiba. Yap,,di karcisku tertulis BRANTAS pukul 16:55. Aku menunggu 1 jam lebih, belum ada tanda-tanda kereta datang. Sepertinya memang telat.. Kubuka buku “Agenda Mendesak Bangsa SELAMATKAN INDONESIA” yang baru kubeli 60 jam yang lalu, dan akupun mulai membaca.

“Koran mbak, koran..” seru seorang loper koran memecah kosentrasiku saat sedang embaca.

“Mboten pak..” jawabku sambil tersenyum

“Mung sewu kok mbak, nopo niki SoloPost ingkang kalehewu. Jawa pos nggeh wonten, nanging tigangewu..”sambut bapak loper koran merayu,

“Inggih pak, ingkang soloPost kemawon.”, akupun mengalah..

Kamipun bertransaksi. Aku membayarkan 2 rbu, dan bapak loper koran ….

*to be continued, Insya Allah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s