Home

*sebuah tulisan yang sudah agak lama…semoga bermanfaat..


Bulan ramadhan adalah bulan penuh ampunan, penuh rahmat, bulan perbaikan, bulan peningkatan ibadah. Selama sebulan penuh kita menjadi kepompong dengan berpuasa mengharap ridho-Nya semata. Saat senja terakhir di bulan ramadhan pergi, dan sabit syawal menyapa, sebuah episode baru kehidupan dimulai. Sang kepompongpun menjadi kupu-kupu indah nan cantik, dan menjadi semakin cantik ketika dia memperpanjang umurnya dengan bersilaturahim kepada saudaranya sesama muslim. Menggugurkan dosa dengan saling memaafkan dan berjanji setia untuk saling mengingatkan dalam kebaikan dan taqwa.

Menjadi unik ketika budaya silaturahim yang diajarkan oleh Islam berakulturasi dengan budaya asli Indonesia. Sehingga timbullah tradisi “Syawalan” yang hampir dilakukan di semua daerah di Indonesia pasca datangnya hari Idul Fitri. Keluarga-keluarga saling mengunjungi untuk bersilaturahim dan berbagi cerita, mengikat kembali tali-tali ukhuwah yang kendur ataupun putus. Begitulah, sebagai salah satu keluarga, KaMAdz (Keluarga Muslim Adz-Dzarrah) pun bersilaturahim dengan semua muslim/muslimah di Jurusan Teknik Fisika. Acara yang diadakan di hari ke 17 di bulan syawal ini merupakan salah satu agenda penting KaMAdz, terutama menyangkut penyambutan dan pengenalan anggota keluarga baru: Mahasiswa JTF angkatan 2010.

Syawalan yang bertajuk “Pasang Surut Dakwah di Teknik Fisika” ini menghadirkan M. Iqbal Muharram R.(Ketum BEM KMFT 2010) dan Mountadsulli Febrialam (Mas’ul KaMAdz), bertindak sebagai moderator adalah Pinto Anugrah (Fistek 2009). Acara berlangsung dari pukul 16.00 WIB sd 17.45 WIB, berbentuk talkshow yang mendapat sambutan antusias dari peserta.

Sebagai pembukaan, moderator membawa diskusi ini ke arah pembahasan mengenai banyaknya mahasiswa JTF yang tumbuh besar sebagai aktivis dakwah (dakwah: Mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar) di lingkup fakultas, universitas, bahkan ekstra kampus. Namun, dalam kandang sendiri (baca: di jurusan), dakwah seakan kering dan terlupakan. Banyak tanggapan dan pendapat yang disampaikan mengenai bahasan ini. Bahwa kita tidak boleh melupakan rahim kita sendiri. Bahwa dakwah membutuhkan pengorganisasian yang rapi. Jangan sampai kita kalah oleh orang-orang yang ingin memadamkan cahaya Islam dengan pengorganisasian mereka yang sangat rapi, jangan sampai kita tidak mengorganisir dakwah kita. Karena, seperti kata Sayyidina Ali bin Abi Thalib, bahwa kebaikan yang tidak terorganisir akan kalah dari kejahatan yang terorganisir. Demikianlah, dakwah kita harus terorganisir. Menejemen waktu, pembagian peran agar tidak ada satu tempat pun yang terdzalimi, baik di dalam jurusan maupun diluar jurusan. Menejemen menjadi hal yang penting.

Pun dengan para pendakwah itu sendiri. Pendakwah juga harus memenejemen dirinya. Bisa menempatkan dirinya di lingkungan yang mana, yang sesuai dengan kemempuannya dan kebutuhan dakwah. Islam sangat memperhatikan lingkungan. Dakwah tidaklah sesempit arti menjadi seorang mubaligh yang bisa berbicara di depan banyak orang layaknya da’i kondang. Dakwah adalah mati-matian memperbaiki diri sembari mengajak orang lain untuk memperbaiki diri juga agar menjadi seperti yang Allah pinta. Dakwah adalah menebarkan kebaikan dimanapun kita berada, entah itu di lembaga da’awiy (seperti KMT, KaMAdz, JS, ataupun SKI lain), di lembaga publik (BEM, MPM,dll), maupun di lembaga keilmuan (LPKTA, GC, KAMASE, dll), dan dalam posisi apapun. Dakwah adalah menjadi public service yang harus pandai mengubah bahasa Illahi kedalam bahasa sosial. Dimanapun kita berada disitulah dakwah kita semai sehingga menghasilkan pohon-pohon kedamaian yang menjulang tinggi dan menjadi rahmat bagi semesta alam.

Nahnu du’at qobla qulli syai’in.. Kita adalah da’i sebelum menjadi yang lain. Menjadi da’i, menjadi seorang pendakwah, adalah kewajiban bagi setiap muslim. Kita adalah da’i sebelum kita menjadi profesor, kita adalah da’i sebelum kita menjadi presiden, kita adalah da’i sebelum kita menjadi pengacara. Menjadikan pemahaman ini terinternalisasi pada setiap pribadi muslim, dan tidak akan terjadi lagi “dakwah yang surut”, yang ada hanyalah “dakwah yang pasang”. Dakwah yang pasang karena kerendahan hati para pejuangnya, yang bersatu padu dalam kebaikan dan taqwa demi mengharap ridha Allah SWT.

Semoga syawalan keluarga besar muslim JTF ini menjadi titik awal bagi kita semua untuk memahami urgensi keberadaan kita disini sebagai penyeru kebaikan. Kebaikan yang harus disampaikan untuk semua orang. Jika ada yang bertanya :”bagaimana dengan saya, saya belum cukup ilmu untuk disampaikan pada oranga lain?”.. Maka jawabannya adalah, Ya..kita semua belum cukup ilmu untuk itu. Maka dari itu menuntut ilmu menjadi sangat penting. Jadikan forum-forum pekanan kita (baca:AAI) sebagai salah satu tempat untuk menuntut ilmu. Setelah itu, sampaikanlah…sampaikanlah apa yang kita dapatkan walaupun hanya satu ayat. Jangan pernah takut untuk berdakwah, Sobat!!!

Dan JTFpun Bergerak!!!!!!!!!!!!

“Islam adalah sistem yang syamil ‘menyeluruh’ mencakup semua aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air, pemerintah dan umat, moral dan kekuatan, kasih sayang dan keadilan, peradaban dan undang-undang, ilmu pengetahuan dan hukum, materi dan kekayaan alam, penghasilan dan kekayaan, jihad dan dakwah, pasukan dan pemikiran. Sebagaimana juga ia adalah aqidah yang murni dan ibadah yang benar, tidak kurang tidak lebih.”

(Hasan Al-Banna)

Yogyakarta, October 10, 2010

dtpramesti, Departemen Ukhuwah Lembaga , KaMAdz.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s