Home

Kampus dengan berbagai elemen yang mendukung di dalamnya merupakan ladang yang paling subur untuk ditanami dengan beraneka bentuk pergerakan dan konsep pemikiran. Hal itu menjadikan kampus sebagai “institusi” yang kaya akan idealisme disaat yang lain kuyu, menjadi penebar keberanian disaat yang lain takut akan ancaman, dan menjadi yang meneriakkan kebenaran dengan lantang disaat yang lain bungkam. Terbukti, tumbangnya Orde Lama tahun 1996, peristiwa Lima Belas Januari (MALARI) tahun 1974, dan reformasi (runtuhnya Orde Baru) tahun 1998 beraktorkan para aktivis kampus (aktivis mahasiswa), yang pada saat itu keadaan tidaklah sestabil sekarang. Bahkan ironisnya, reformasi itu sendiri terjadi tidak lama setelah diberlakukannya NKK (Normalisasi Kegiatan Kampus), yang pada tujuannya adalah untuk membungkam para mahasiswa. Hal ini membuktikan “kesaktian” kampus (gerakan mahasiswa) sebagai basis pergerakan menuju perubahan sosial yang lebih baik tanpa terpengaruh oleh tekanan penguasa (pemerintah).

Menurut Arbi Sanit ada lima sebab yang menjadikan mahasiswa peka terhadap permasalahan bangsa sehingga mendorong mereka untuk melakukan perubahan. Pertama, sebagai kelompok masyarakat yang memperoleh pendidikan terbaik, mahasiswa mempunyai pandangan luas untuk dapat bergerak di semua lapisan masyarakat. Kedua, sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan, mahasiswa telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Ketiga, kehidupan kampus membentuk gaya hidup unik melalui akulturasi sosial budaya yang tinggi diantara mereka. Keempat, mahsiswa sebagai golongan yang akan memasuki lapisan atas susunan kekuasaan, struktur ekonomi, dan akan memiliki kelebihan tertentu dalam masyarakat, dengan kata lain adalah kelompok elit dikalangan kaum muda. Kelima, seringnya mahasiswa terlibat dalam pemikiran, perbincangan dan penelitian berbagai masalah masyarakat, memungkinkan mereka tampil dalam forum yang kemudian mengangkatnya ke jenjang karir.

Kampus adalah tempat yang strategis seperti halnya mahasiswa adalah sosok yang strategis dan dibutuhkan keberadaannya dalam tatanan masyarakat. Hal ini memberikan tanggung jawab yang besar kepada mahasiswa sebagai insan yang paling lama berada dalam panggung akademis dan paling banyak mendapatkan ilmu dibanding komponen masyarakat lainnya. Peranan inilah yang sesungguhnya dijalankan oleh para mahasiswa dari mulai zaman colonial yang kemudian diperankan juga oleh generasi berikutnya hingga saat ini.

Namun tidak dapat dipungkiri bahwa kampus (dan elemen-elemennya) yang kita temui sekarang “cenderung” bungkam. Maaf, bukannya merendahkan, namun kita sudah sepatutnya membuka mata ini lebar-lebar dan menyadari bahwa hampir 90% penghuni kampus itu bersikap apatis terhadap apa yang sedang terjadi di negeri ini. Gelombang aksi yang ada di mana-mana, hanya orang itu-itu saja yang ditemui, mana yang lainnya? “Kesaktian” kampus sekarang memang sudah tidak seperti yang dulu lagi. Tidak heran jika pemerintahpun hanya menengok sedikit dan berkata “Oh, ada aksi to..” lalu sedetik kemudian sudah lupa apa yang tadi disuarakan. Siapa yang salah? Kampus tidak salah apa-apa, dia hanya berlaku sebagai hardware. Kitalah, mahasiswa sebagai brainware dan sistem pergerakan sebagai softwarenya, yang perlu diperbaiki dan ditinjau kembali.

Tidak menutup kemungkinan bahwa “kesaktian” itu berkurang karena motif dan sistem yang belum benar. Apa sebenarnya sistem yang seharusnya dipegang oleh mahasiswa? Saya muslim, Anda muslim, kita semua muslim. Dan kita tahu sistem yang benar adalah sistem yang sesuai dengan ajaran agama, atau syariah. Syariah itu sesungguhnya merupakan sebuah sistem yang integral, sempurna, dan universal. Namun, sistem sesempurna apapun, itu adalah software yang membutuhkan brainware atau manusia sebagai aktor untuk menjalankannya. Seperti perubahan sosial itu sendiri yang harus dimulai dari unit terkecilnya, individu-dalam hal ini mahasiswa. Mengutip kata-kata H.M. Anis Matta dalam  tulisannya tentang gerakan dan Negara,”…membangun ulang susunan kepribadian individu, mulai dari cara berpikir hingga cara berperilaku. Setelah itu, individu-individu itu harus dihubungkan satu sama lain dalam suatu sistem jaringan yang baru, dengan dasar ikatan kebersamaan yang baru, identitas kolektif yang baru, sistem distribusi sosial ekonomi politik yang juga baru.”

Pengaturan yang apik yang disebutkan dalam kutipan tulisan diatas sudah dicontohkan sendiri oleh manusia paling hebat yang pernah ada, Rasulullah saw. Hal itu terjadi ketika beliau merekrut orang-orang terbaik dari kaum Quraisy dan Yastrib. Kemudian terbentuklah komunitas baru dimana Islam menjadi basis identitas, akidah menjadi dasar ikatan kebersamaan, ukhuwah menjadi sistem jaringan, dan keadilan menjadi prinsip sistem distribusi social-ekonomi-politik. Perubahan itu bermula dari dalam individu, dari dalam pikiran, jiwa, dan raga.

Model perubahan sosial seperti itu jika diusung dalam kehidupan pergerakan di kampus, besar kemungkinan-karena menghindari penggunaan kata “pasti”-akan mengembalikan “kesaktian” kampus itu yang sudah lama hilang. Konsep ini bukanlah mimpi melangit yang masih tersembunyi di awing-awang, tapi idealisme yang membumi yang dapat direalisasikan kapanpun kita mau.  Adalah benar bahwa konsep ini bersifat gradual dan bertahap, tidak instan. Konsep ini lebih cenderung evolusioner, tapi dampaknya selalu bersifat revolusioner.

Siapakah Anda?

“Akulah petualang yang mencari kebenaran. Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya di tengah manusia. Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan, dan kehidupan yang baik bagi tanah air dibawah naungan Islam yang hanif…

Inilah aku, dan kamu…siapa kamu?”

(Imam Syahid Hasan Al-Banna)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s