Home

Sejarah merupakan rangkaian kehidupan umat manusia pada masa lampau yang memberikan pelajaran tak terperi pada bangsa-bangsa yang datang sesudahnya. Catatan sejarah luar biasa yang pernah ada, al-Qur’an dan hadits, banyak berkisah tentang umat-umat masa lalu dan merekam berbagai peristiwa penting dalam perjuangan Islam. Sejarah-sejarah indah itu pulalah yang menjadi tempat bagi kita untuk berkaca dan menata kembali bangunan iman, taqwa, dan semangat perjuangan yang seringkali berkelakuan seperti kurva sinus dan cosinus-menanjak, menurun, bertitik balik. Sebuah pengingat dan pemberi taujih hamasah tentu sangat diperlukan untuk memberi roh intelektual agar kurva itu menjadi terekstrapolasi dan senantiasa menanjak. Kajian tentang narasi kehidupan Nabi dan sistem-sistem perjuangan dalam membangun benteng pertahanan Islam yang kokoh menjadi sebuah jawaban untuk tantangan-tantangan diatas.

Maka buku ini hadir sebagai jawaban, memaparkan studi yang spesifik mengenai kajian tentang pergerakan dalam sirah nabawiyah, serta menyajikan fakta dan analisa yang tajam yang mempertautkan berbagai peristiwa di masa Nabi dengan kejadian mutakhir yang dihadapi oleh Harakah Islam kontremporer. Buku yang ditulis dengan sangat runtut oleh Syaikh Munir Muhammad al-Ghadban ini terdiri dari dua bagian. Bagian pertama terdiri atas tiga periode-periode pertama, kedua, dan ketiga-, sedangkan bagian kedua berisikan tentang periode ke empat, yaitu bagian yang akan kita bicarakan lebih lanjut: Negara dan Penguatan Pilar-pilarnya.

Seperti pada periode-periode pada bagian pertama dalam buku berhalaman 653 terbitan Robbani Press ini, periode empat juga memuat karakteristik-karakteristik yang menjadi ciri khas dalam periode empat tersebut. Periode empat ini terdiri dari duapuluh lima karakteristik, yaitu: Gencatan Senjata Bersama Musuh-Musuh Selain Kaum Quraisy dan Sekutu-Sekutunya; Membangun Basis yang Kokoh; Deklarasi Negara Islam; Opsi Perang; Komunitas Kaum Paganis di Madinah; Menceraiberaikan Komplotan Itu dengan Sentimen Nasionalisme dan Kekeluargaan; Upaya Pemecahbelahan Barisan Islam; Musuh Meremehkan Norma-Norma Demi Kepentingan Sendiri; Bahaya Mengancam Qiyadah; Kondisi perang dan Bersatunya Semua Kekuatan Melawan Islam; Mengumumkan Perang Kepada Musuh; Pengukuhan Jati Diri Islam Menjelang Konfrontasi; Konfrontasi Fisik dalam Perang Badar dan Furqan yang Ada Padanya; Kubu Orang-Orang Munafik, Kemunculannya, Bahayanya, dan Penyusutannya; Keberadaan Yahudi di Madinah dan Pembersihannya; Malam Tribulasi Panjang dan Bahayanya; Berita Gembira di Tengah Tribulasi; Aksi Sabotase dan Pengaruhnya dalam Menebarkan Rasa Takut dalam Barisan Lawan; Peran Media Massa dalam Perang; Meningkatnya Jumlah Personil dan Sarana perang; Pengerahan Upaya Manusia; Peran Serta Wanita dalam Perang; Strategi Jenius Seorang Pimpinan; Pertolongan Allah di Tengah Tribulasi; Tarbiyah Illahiyah Pasca Perang.

Gaya bahasa yang digunakan dalam buku yang ditulis oleh dosen di Universitas ummul Qura Saudi Arabia dan di Jami;ah al-Iman Yaman ini adalah gaya bahasa yang mengalir dengan lembut dan tenang, namun tetap mengandung sisi semangat (dan menyemangati) yang tidak kalah dari buku-buku motivasi yang banyak beredar di pasaran. Tengok saja halaman ke 476 dari buku ini: “ Beliau selalu menjadi orang pertama dalam setiap ujian. Dengan sedikit saja kata-kata yang disampaikan, bangkitlah semangat keberanian dan jihad. Beliau berbicara tentang kemenangan disaat para pasukan kehilangan harapan terhadap kemenangan”. Selain itu, tengok pula cuplikan-cuplikan kisah yang sangat memotivasi. Salah satunya adalah tentang Umair bin Adi yang membunuh Asma’ binti Marwan karena telah menyakiti Rasulullah dan melecehkan Islam: ”Beliau lalu menoleh kepada para sahabat dan bersabda, ’Jika kalian suka melihat seseorang yang memberikan pembelaan kepada Allah dan Rasul-Nya secara diam-diam, lihatlah Umair din Adi.’ Umar Ibnul Khaththab ra. Berkata, ’Lihatlah orang buta yang menjual dirinya demi ketaatannya kepada Allah ta’ala.’ Rasulullah menyanggah,’Kamu jangan mengatakan ia buta, ia dapat melihat,’” Petikan tersebut ada pada karakteristik ke delapan belas: Aksi Sabotase dan Pengaruhnya dalam Menebarkan Rasa Takut dalam Barisan Lawan.

Seperti kata pepatah ”Jas Merah, Jangan Lupakan Sejarah”, selayaknya kita juga bisa berkaca dan mempertautkan apa yang terjadi di masa silam, dengan masalah yang sedang kita hadapi sekarang. Manhaj ini adalah manhaj yang diajarkan oleh Rasulullah yang mulia, yang tidak lain dan tidak bukan mendapatkan wahyu dan pengajaran dari Sang Pemilk Langit dan bumi. Sudah semestinya kita mengikuti alurnya dan bahkan sebagai acuan dan rujukan dalam mensiasati masalah yang kita hadapi sekarang. Misalnya, pada pengkajian tentang peran media massa dalam perang. Memang benar, sekarang kita sedang tidak berhadapan dengan perang fisik. Namun, perang yang lebih bahaya sebenarnya sedang kita jalani, yakni perang pemikiran, atau biasa disebut dengan ghazwul fikri. Media masa pada saat itu yang hanya berupa syair-syair tanpa ditunjang teknologi yang keren pun bisa sangat berpengaruh dan memberikan efek yang patut diperhitungkan, apalagi sekarang kita yang hidup di era digital dengan perang yang lebih kompleks. Taktik, siasat, dan sistem yang harus dibenahi. Karena disana musuh-musuh Islam pun sedang mengatur taktik, siasat, dan sistem untuk memadamkan cahaya Allah.

Secara garis besar, dapat dikatakan bahwa periode empat yang bercerita tentang ”Negara dan Penguatan Pilar-Pilarnya” merujuk pada Periode Madinah yang terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah tahap mendirikan Negara dan berakhir dengan Perang Khandaq. Sedangkan tahap kedua adalah tahap pertolongan Allah dan kemenangan. Bermula dari perjanjian damai Hubaidiyah hingga wafatnya Nabi saw. Kalimat-kalimat hikmah yang tersusun dalam periode empat ini begitu luas, runtut, dalam, dan terperinci. Akan membutuhkan paling tidak sepuluh sampai lima belas halaman untuk menuliskan inti sarinya apabila tidak ingin memecah belah (atau bahkan meng-corrupt) alur pikiran yang sangat rapi tersebut.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s