Home

 Rasulullah mengajarkan kita untuk menjadi pribadi yang shalih dan mulia. Begitupun beliau mentarbiyah para generasi terbaik umat saat itu dengan didikan terbaik dan mendapatkan hasil terbaik pula. Generasi terbaik sepanjang sejarah. Generasi salafusshalih. Mereka shalih secara pribadi, dan shalih pula secara sosial :menshalihkan orang-orang di sekitar mereka hingga stage negara. Bayangkan, negara!!! Negara yang shalih.

Bisakah sebuah negara  -atau katakanlah sustainable community-  yang shalih terbentuk dari pribadi-pribadi yang shalih? Bisa, tapi tidak semudah itu. itu saja tidak cukup. Akan ada banyak energi yang berserakan dengan keteracakan yang tinggi, sehingga potensi-potensi yang ada tidak terfokuskan untuk sebuah tujuan mulia yang besar. Sebuah tujuan yang sebenarnya sama :tidak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama semat-mata hanya milik Allah.

Keberanian sejati mengenal rasa takut

Dia tahu bagaimana takut kepada apa yang harus ditakuti

Orang-orang tulus menghargai hidup dengan penuh kecintaan

Mereka mendekapnya sebagai permata yang berharga

Dan mereka memilih waktu serta tempat yang tepat untuk menyerahkannya

Mati dengan penuh kemuliaan…

-Eiji yoshikawa, Musashi

Sajak diatas mengingatkan saya pada Andalusia, Balkan, Cyprus, Italia Utara, dan pulau-pulau di laut Roma. Dahulu, semuanya berada dalam pangkuan Islam.  Islam adalah agama yang cinta damai. Namun, Islam juga agama yang tidak rela akan penyerahan, ketundukan, dan ketidak berdayaan, Islam bukan agama yang pengecut dan penakut. Umat Islam, dahulu pernah sangat berjaya dalam bentuk Daulah Islamiyah dan Khilafah Islamiyyah yang kukuh, buah dari keberanian para penyebar risalah awal. Generasi awal umat ini telah menorehkan teladan yang sangat berharga: berani tanpa mengenal rasa takut dalam menentang kedzaliman, namun takut pada yang seharusnya ditakuti..Allah SWT. Generasi awal umat ini juga merupakan pribadi-pribadi yang tulus dan menghargai hidup dengan penuh kecintaan, mereka tidak takut mati, tidak cari mati, tapi mereka merindukannya, mati dengan penuh kemuliaan: syahid di jalan Allah.

Sebuah mimpi besar bagi umat ini adalah mengembalikan kejayaan masa lalu itu. dan itu bukanlah hal yang tidak mungkin. Itu hal yang mungkin, sangat mungkin. Karakter dakwah islamiyah mewajibkan setiap muslim bergerak dan berusaha mewujudkan seluruh tuntutan Islam, termasuk menegakkan kembali Daulah Islamiyah ‘alamiyah. Mimpi ini bukan sekedar mimpi tanpa aksi yang nyata, melainkan sebuah mimpi yang harus diusahakan untuk mewujudkannya. Karena itu, perjuangan melalui amal jama’i yang digerakkan sebuah jama’ah Islam harus tersusun rapi dan kuat. Tujuan tersebut tidak mungkin tercapai hanya dengan usaha perorangan, tanpa suatu gerakan bersama yang terkoordinasi.

Dalam kaidah ushul fiqih, amal jama’i adalah wajib, “Sesuatu yang tidak sempurna pelaksanaannya kecuali dengannya, maka ia adalah wajib”. Islam bukanlah agama individu. Islam merupakan agama satu umat, satu tanah air, satu bangsa, dan satu tubuh. Konsep amal jam’ai ini, juga bukanlah konseep baru yang mengada-ada. Amal jama’i sudah dicontohkan oleh Rasulullah yang bersama jama’ahnya menegakkan Daulah Islamiyah pertama. Kemudian diikuti para Khulafa al-rasyidin dengan menggunakan manhaj yang telah dicontohkan oleh Rasulullah.

Ada tiga buah kata yang bisa merangkum apa yang disebut dengan jama’ah, yakni pemimpin(qiyadah), anggota(jundi), dan sistem (manhaj). Pemimpin dalam suatu jama’ah ibarat kepala bagi  tubuh. Pemimpin merupakan lambang kekuatan, persatuan, keutuhan, dan disiplin shaff. Karena itulah, kedudukan pemimpin dalam suatu jama’ah sangat penting dan utama. Pemimpin dalam jama’ah memiliki fungsi mengatur seluruh gerakkannya, menentukan tujuan dan sasaran serta sarana, mengawasi dan mengontrol pelaksanannya. Kepemimpinan dalam jama’ah adalah sebuah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak. Syaikh Hasan Al-Banna bahkan mengatakan bahwa kedudukan pimpinan dalam dakwah adalah sebagai ayah dalam ikatan hati, sebagai guru dalam mengajarkan ilmu, sebagai syaikh dalam pendidikan ruhani, dan sebagai pimpinan dalam mengendaliakn kebijakan dakwah, dakwah kita memadukan semua pengertian tersebut.

Kata kunci yang kedua saat berbicara tentang jama’ah adalah anggota(jundi). Rasulullah mendidik dan membentuk generasi muslim pertama dengan ajaran Al-Qur’an dalam madrasahnya. Karena itulah, setiap pribadi hasil didikan Rasulullah menjadi anggota yang berguna dan aktifis yang berhasil guna dalam mewujudkan kesatuan umat dan menegakkan Daulah Islamiyah. Umat ini butuh jundi yang lurus aqidahnya, benar ibadahnya, mulia akhlaqnya, cerdas fikirannya, bijak, sehat  badannya, berdisiplin dalam urusan-urusannya, dan bisa menjaga waktunya. Anggota yang berjiwa prajurit dan berdisiplin tinggi tidak kurang penting kedudukannya dengan pimpinan.

Hal lain yang sangat penting dalam sebuah amal jama’i adalah sistem (manhaj). Sistem merupakan tata tertib dan peraturan yang mengatur seluruh gerakan dan amal usaha, yang menentukan pengkhususan dan membuat jaminan untuk kebaikan perjalanan gerakan serta melindungi dari kerusakan dan penyelewengan. Sistem dan peraturan yang ada harus berada dalam kerangka dasar-dasar Islam. Seluruh sistem dan peraturan harus dipandang sebagai sarana dan alat untuk menyusun dan mengatur kerja dan gerakan. Karena itu peraturan yang ada dapat diubah, diganti, atau disempurnakan menurut keperluan dan pertimbangan, tanpa mengganggu kestabilan jama’ah.

Bagaimana dengan kebijakan dari jama’ah itu sendiri? “..sedang urusan mereka (diputuskan) dengan musyawarat antara mereka..” [Q.S. Asy-Syura:38]. Kebijakan-kebijakan dalam jama’ah diputuskan melalui syura. Syura adalah decision maker dalam jama’ah. Bahkan menurut Jum’ah Amin dalam Ats-Tsawabit Wal-Mutaghayyirat, syura adalah puncak Islam yang tertinggi, ia merupakan kewajiban syariat dan perkara aksiomatis dalam agama. Ia wajib ditunaikan, baik itu syura mu’limah atau mulzimah. Sebab, Allah memerintahkannya sebagaimana sholat dan zakat diperintahkan bersama dalam satu ayat. Sehingga ia menempati hukum fardlu dan oleh karenanya Rasul kita diperintahkan terhadap tiga kewajiban ini secara bersamaan dan disampaikan dari Tuhannya sejak terbitnya fajar dakwah.

Begitulah.. saat mimpi yang indah dan tinggi itu ada dihati, diam bukanlah sebuah solusi. Kebangkitan Islam itu niscaya ada, dan akan terjadi. Bisa jadi, kebangkitan Islam itu akan datang dari negeri kita, Indonesia. Siapa penyiap kebangkitan itu? kaum intelektual muda yang shalih/shalihah, Insya allah.

Kemudian, jika ada yang bertanya “siapakah kaum intelektual mudayang shalih/shalihah itu?”. pastikanlah, jawabannya adalah kita. Akan ada banyak pihak yang meragukan, menertawakan, dan mengatakan apa yang kita lakukan ini sia-sia belaka. Itulah ujian seberapa kuat kita dalam menggigit prinsip ini. Gigitlah dengan geraham yang kuat, dan jangan pernah terlena, sehingga tanpa sengaja kita melepaskannya.

Sedangkan kampus itu sendiri merupakan tempat untuk belajar, belajar disiplin ilmu kita masing-masing sekaligus belajar berjamaah properly. Dalam dakwah kampus inipun kita memiliki qiyadah, manhaj, dan jundi. Semua yang dilakukan adalah kerja-kerja amal jam’ai yang telah diajarkan oleh Rasul dan Salafusshalih. Yang sedang kita lakukan adalah apa yang sednag dilakukan juga oleh bapak-bapak kita didunia real, dalam kerja-kerja jama’ah yang nyata. Keberadaan dakwah kampus itu sendiri bukanlah hal yang tidak penting : ini adalah hal yang penting, sangat penting. Hati dan jiwa ini hanya bisa berharap akan ridho-Nya semata. Mendoakan teman-teman seperjalanan supaya tetap bersama-sama dalam jalan  kebenaran dan limpahan hidayah-Nya. Kita hanya punya dua pilihan,tidak ada yang lain : Isy kariiman au mut syahiidan.

Jihad diambil dari kata al-juhdu yang berarti kepayahan. Ketahuilah, bahwa kesusahan dalam berjihad menuntut kita untuk berjuang terus hingga pertarungan berakhir. Hanya diawal perjalanan, kita sempat memuji pimpinan, tetapi jika telah berada di tengah perjalanan yang penuh resiko, tidak ada bekal dan persiapan umat ini kecuali jiwa yang beriman, tekad yang kaut dan benar, dan rela berkorban.

Wallahu’alam.

Yogyakarta, 12 Mei 2011

Deatiana Tunggal P

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s