Home


Kerbau, seekor hewan mamalia berkulit hitam pekat, berbadan besar, kotor, dan identik dengan kebodohan atau kemalasan. Tak pernah terpikir sebelumnya dalam benakku, akan ada orang yang mengidentikanku dengan kerbau. Bukan marah, bukan tersinggung. Hanya heran. Ya, cukup heran dengan diriku. Berharap sedikit kisah ini bias diambil manfaatnya oleh teman-teman sekalian.

Hari itu adalah hari training pemandu ospek fakultas teknik (PPSMB Teknik UGM 2011/PERSADA). Training kali itu diisi oleh trainer yang sungguh hebat,benar-benar hebat. Beliau bernama Pak Sabar, salah satu dosen UNY. Secara pribadi, saya sangat kagum dengan beliau. Beberapa kali saya berinteraksi dengan beliau sebelum adanya training tersebut, dalam sebuah forum lain, dalam afiliasi yang membuat saya bertemu dengan beliau, di tingkat wilayah DIY. Dalam suatu sesi di training tersebut, ada sebuah permainan. Permainan tersebut dilakukan secara berpasangan, dengan  orang yang paling dekat secara hubungan dengan kita. Sebenarnya, ada beberapa teman dekat saya yang ada di ruangan tersebut, teman yang sangat dekat. Namun, karena saya enggan beranjak jauh-jauh dari tempat duduk saya saat itu, maka saya mengajak berpasangan adik angkatan yang duduk disebelah saya. Lumayan dekat lah, beliau kan juga teman se kontrakan saya, jadi saya pikir tidak akan jadi soal. Dalam permainan tersebut, kami diminta untuk mendeskripsikan pasangan kami dengan dua buah kata: satu kata sifat, dan satu kata benda (dari jenis binatang/tumbuhan).

Saya memberi beliau deskripsi “Hud-hud Cerewet”. Nah lho, kenapa? Saya sebut “Hud-hud” karena beliau berbadan kecil dan sering bepergian tanpa berpamitan pada kami,teman-teman satu kontrakannya. Bahkan pernah waktu itu beliau pergi sampai hampir 3 hari, tanpa pamit. Kami sudah khawatir beliau pergi kemana, takutnya kenapa-kenapa…eh,tiba-tiba di hari ke-3 beliau datang, dan menjelaskan bahwa ternyata beliau menginap di tempat temannya untuk berkonsentrasi belajar menjelang ujian. Mirip dengan hikayat Hud-hud dalam ceritanya dengan Nabi Sulaiman (inget kan, kisahnya dalam Al Qur’an Surat An Naml?). Kenapa “cerewet”? Sebenarnya bukan cerewet, saya hanya tidak menemukan kata sifat yang pas untuk orang yang sangat pandai menghafal, menghafal Al-Qur’an. Subhanalllah, kecepatan beliau dalam menghafal sangat tinggi. Saya kagumJ

Kembali ke cerita training tadi, sang trainer menunjuk beberapa pasang secara random untuk maju ke depan menjelaskan sebutan apa yang mereka berikan untuk pasangan mereka. Kebetulan, saya dan pasangan saya termasuk yang ditunjuk untuk maju. Kemudian saya jelaskan didepan forum, kenapa saya menamai beliau “Hud-hud Cerewet”. Beliaupun tersipu-sipu malu😀

Akhirnya tibalah giliran pasangan saya untuk menjelaskan sebutannnya untuk saya. Wah, saya deg-degan juga.. seperti apa saya di mata orang lain. Ternyata, beliau memberi sebutan pada saya “Kerbau Cerdas Pemberani”. Kenapa “kerbau”? Beliau menjelaskan karena saya sangat sering tidur, porsi tidurnya sangat besar. Beliau menjelaskan bahwa beliau sangat sering mendapati saya tertidur di kontrakan kami.  Kenapa “cerdas pemberani”?karena, menurut beliau walopun saya sangat sering tidur, namun IP saya selalu bagus, diatas rata-rata. Pemberani karena saya tidak segan untuk mengungkapakan apa yang saya anggap benar, biarpun semua orang menolaknya, kekeh dengan pendirian dan prinsip yang saya pegang. Itu menurut beliau.

Bayangkan, bagaimana rasanya disebut/dijuluki sebagai “Kerbau”, orang yang hobi tidur, didepan banyak orang, dimana forumnya sangat besar, terdiri dari 40 orang pemandu puta, dan 40 orang pemandu putri, dan seorang trainer yang sebelumnya sudah saya kenal di forum yang diadakan struktur wilayah? Sedih, malu, tapi berusaha untuk tersenyum dan membungkukkan badan saat mengucapkan kata “terimakasih”, plus senyum termanis tentunya.

Saya tahu, karakter telah terbunuh. Berkali-kali, dengan banyak tusukan, disana sini. Saya tidak berhak marah, atau membantah. Karena itulah yang dilihat orang lain dari diri saya. Dari seorang yang banyak hafalan Al-Qur’an nya, yang sangat jujur dan polos apa adanya. Adakah offense?? Bukan offense, hanya ingin sedikit menjelaskan..

Saya selalu berusaha memastikan bahwa apapun yang saya kerjakan bisa seefektif mungkin dan seoptimal mungkin. Misal, saat kuliah, sebisa mungkin saya tidak mengantuk/tertidur. Saat syuro yang dimulai sangat pagi, saya usahakan untuk ontime, melek, tanpa ngantuk. Saat mengajar les disore hari, saya usahakan datang dalam keadaan se-fresh mungkin. Saat memenuhi suatu undangan dari saudara, saya usahakan untuk dalam keadaan 100%, fokus. Saat mengerjakan tugas, saya akan tetap stay sekuat mungkin sampai tugas tersebut bisa benar-benar selesai dengan memuaskan. Kapan waktu saya untuk lelah, capek, dan memejamkan mata? Disela-sela itu. Saat menjelang duhur, antara jam 11 sd 12 saya tidur, atau kadang2 ba’da duhur jika sedang ada waktu. Kalau malam? Saya akan tidur sesaat setelah isya’, maximal jam 8 malam saya akan tidur, saat teman2 yang lain masih terbangun dan belajar atau melakukan aktivitas lain. Kenapa? Karena saya ingin bangun lebih awal… jadi, tidak salah jika beliau,teman sekontrakan saya, berkesimpulan bahwa saya adalah orang yang sangat gemar tidur. Karna memang praktis saya tidur saat orang lain terbangun. Walaupun mungkin mereka tidak tahu bahwa saat mereka tertidur panjang, sayalah orang yang terbangun dan menyaksikan bagaimana panjangnya malam menemani dalam kesendirian-kesendirian saya yang beku.

Kejadian hari itu adalah tamparan, teguran, peringatan dari Allah untuk saya, didepan banyak orang, didepan orang yang saya kagumi.. Agar saya lebih sadar lagi siapa diri ini, milik siapa saya, berani-beraninya menghabiskan nafas yang mungkin tinggal sedikit ini untuk berleha-leha tidur, disaat yang lain terbangun. Ya Allah, maafkan saya, maafkan saya, sungguh maafkan saya. Jadikanlah saya orang yang tahu diri, sadar, siapa diri saya..untuk apa saya diciptakan..untuk apa saya diberikan nafas dan kehidupan.

Terimakasih teman, terimakasih saudaraku..sungguh..terimakasih. untuk sebuah peringatan yang menenagkan. Setelah ini, semoga si kerbau bisa berubah menjadi lebih baik lagi. Atau bahkan berhenti menjadi kerbau dan berubah menjadi yang lain, yang lebih bisa terjaga saat siang dan malam.

“maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu. Dan dia berdoa: “Ya Tuhanku berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.”
(Q.S. An-Naml:19)

Yogyakarta,

July 12, 2011

Destiana Tunggal P

9 thoughts on “KERBAU

  1. baca tulisan kerbau ini mba mksdnya mbaa??🙂
    udh kalo itu mbaa😀

    bzzz, sepertinya yakin banget nih mbanya blg ane tukang tidur -_____-”

    waah hayoo mba ngomongn ane apa aja sampe mnta maaf banyak hal😛

    klik aja mba namaku di komen ini ^.^
    kalo gak bisa ini mba blog ane

    http://www.rezhaditya.blogspot.com

    masih jelek dan tidak menginspirasi kayak mba desti🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s