Home

“Bulan Ramadhan adalah bulan yang padanya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, dan sebagai penjelas dari petunjuk, serta sebagai pembeda (yang hak dan yang bathil). Maka barangsiapa menyaksikan bulan itu dari kalian hendaklah berpuasa.” (QS. al-Baqarah [2]:185)

Ramadhan kembali hadir dan menyapa dengan senyuman terindahnya, seperti tahun-tahun sebelumnya. Di awal ramadhan ini, ada baiknya kita mengingat kembali tahun pertama diwajibkannya berpuasa di bulan ramadhan. Mengingat apa yang sedang terjadi saat itu, betapa beratnya, dan kemudian memaknai dengan penuh kesyukuran atas keadaan kita sekarang, serta tidak lupa untuk meneladani semangat dan perjuangan generasi terbaik sepanjang masa itu, generasi sahabat Rasul.

Perintah itu pertama kali turun pada tahun ke-2 hijrah, setelah akidah telah tertanam di hati orang-orang Islam. Seakan mereka telah berada pada waktu yang dijanjikan, Allah SWT menurunkan firman-Nya dalam QS. al-Baqarah[2]:183 dan 185. Pada tahun itu, terjadilah Perang Badar Kubra. Sebuah pertempuran sengit yang menjadi penentu nasib Islam dan dakwahnya, serta nasib kemanusiaan secara maknawi. Setiap penaklukan, pembebasan dan kemenangan yang terjadi, juga setiap imperium dan pemerintahan yang tegak, berhutang pada penaklukan nyata pada medan pertempuran perang Badar. Allah menyebutnya sebagai yaumul furqan (hari pembeda).

Kisah ini bermula ketika Rasulullah saw mendengar berita tentang perjalanan pulang Abu Sufyan bin Harb beserta rombongan dagangnya (milik kaum Quraisy) dari negeri Syam. Kaum Quraisy selalu berupaya dalam memerangi Islam, dan Abu Sufyan adalah orang yang paling keras dalam memusuhi Islam, oleh karena itu Rasulullah saw menganjurkan untuk menghadangnya. Beliau tidak mempersiapkan secara matang, sebab urusan kali ini adalah rombongan dagang, bukan pergi ke medan perang.

Abu Sufyan pun mendengar berita tentang kepergian Rasulullah saw untuk menghadang kafilah dagangnya. Ia mengirim utusan ke Makkah meminta tolong kepada kaum Quraisy untuk membantu mereka dari pasukan muslim. Tanpa buang tempo lagi, penduduk Makkah segera bergegas untuk menyerang pasukan muslim tanpa tertinggal seorangpun. Mereka pergi dengan semangat menggelora, kemarahan, dan dendam.

Rasulullah saw pergi bersama 313 orang laki-laki, dengan hanya membawa serta 2 ekor kuda dan 70 unta. Diantara pasukan tersebut terdapat Rasulullah saw, Abu Bakar, ‘Umar, dan beberapa sahabat senior. Panji perang diserahkan kepada Mush’ab bin ‘Umair, bendera kaum Muhajirin dipegang ‘Ali bin Abi Thalib, dan bendera kaum Anshar dipegang oleh Sa’ad bin Mu’adz.

Ketika Abu Sufyan mendengar kepergian umat Islam, ia memutar rute perjalanan dengan menyusuri pantai. Ketika mengetahui bahwa ia dan rombongan dagangnya telah selamat, ia mengirim pesan kepada kaum Quraisy, “Kembalilah kalian. Sebab, kalian pergi hanya untuk melindungi rombongan dagang kalian.” Namun Abu Jahal menolaknya, dan hanya mau berperang. Ketika itu jumlah pasukan dari kaum Quraisy 1000 orang lebih, termasuk didalamnya sekelompok tentara pilihan kaum Quraisy beserta pemimpinnya, dan tidak ketinggalan pula pasukan berkuda. Rasulullah saw bersabda, “Ini adalah Makkah yang telah menyerahkan sebagian jantungnya kepada kalian.”

Kaum Quraisy meneruskan perjalanan, hingga berhenti di salah satu sisi dari lembah. Sedangkan umat Islam berhenti di sisi sumur Badar. Kemudian Al Habib bin al Mundzir mengusulkan kepada Rasulullah saw menuju tempat berhenti yang terbaik. Beliau kemudian beranjak pergi diikuti beberapa orang sahabat, menuju mata air yang paling dekat dengan lokasi musuh, lalu berhenti disana. Saat itu malam ke-17 bulan Ramadhan. Keesokan harinya muncullah kaum Quraisy dengan pasukannya. Kedua belah pihak telah berbaris dalam keadaan siap menyerang. Kedua belah pihak, yakni pasukan muslim dan pasukan musyrik, berada dalam keadaan yang tidak seimbang. Kegaduhan terjadi di kalangan pasukan muslim, karena tampak jelas jumlah pasukan musyrik yang lebih banyak.

Singkat cerita, berkat rahmat dan pertolongan Allah, strategi perang yang jitu dari rasulullah saw, serta keberanian para mujahidin, perang barakhir dengan kemenangan umat Islam dan kekalahan kaum musyrik. Dari pihak pasukan kaum Quraisy terbunuh 70 orang dan tertawan 70 orang. Sedangkan dari pihak pasukan Islam, gugur 6 orang dari kalangan Muhajirin dan 8 orang dari kalangan Anshar.

Rasulullah saw kembali ke Madinah dengan gagah dan penuh kemenangan. Seluruh musuhnya di Madinah dan sekitarnya gentar. Banyak penduduk Madinah yang masuk Islam karenanya. Sementara itu, di rumah-rumah kaum musyrik di Makkah, terdengar ratap tangis. Mereka menangisi korban-korban dari kalangan kaum Quraisy.

Begitulah,, kisah perang Badar di tahun ke-2 hijriah. Dengan penuh gagah berani, genarasi terbaik itu menang melawan pertempuran besar dengan kaum musyrik Quraisy di bulan Ramadhan. Sekarang kita berada di bulan Ramadhan 14 abad setelahnya, dan juga akan berperang. Bukan dengan kaum Quraisy lagi, lebih dari itu. Kita berperang melawan hawa nafsu pribadi, dan pemikiran, ghazwul fikr. Menjadi bertanya-tanya, akankah kita mengulangi kemenangan 14 abad lalu di Ramadhan ini? Wallahu’alam bishowab.

 

D. Tunggal P.

One thought on “MERASAKAN KEMBALI SEMANGAT BADAR

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s