Home

Kali ini saya ingin membuka sebuah rahasia kuno berusia jutaan tahun, yang baru saya sadari sekarang, malam mini, ketika menulis tulisan ini. Jadi begini sodara-sodara, saya melihat banyak anak muda berusia anak kuliahan yang terjebak pada bencana PMDK (Persatuan Mahasiswa Dua Koma), atau epidemic NASAKOM (Nasib Satu Koma). Sungguh sangat memprihatinkan dan harus segera dibasmi. Ingat, kita disini untuk membangun Bangsa, bukan? Menuju Indonesia yang lebih baik dan bermartabat tentunya. Jadi, gimana pengelolaan SDA mau dilimpahkan ke anak bangsa 100% kalau anak bangsanya sendiri tidak bisa menunjukkan kalau dia mampu. Ingat, kata-kata saya adalah “Tidak Bisa Menunjukkan”, bukan “Tidak Mampu”. Saya yakin kok, kita-kita ini bukan orang bodoh…kita ini mampu!

Adalah benar ketika ada yang mengatakan bahwa IP tinggi tidak menjamin kesuksesan kita. Bagaimana jika dibalik, apakah IP yang tidak tinggi akan menjamin kesuksesan? Tidak bukan? IP hanya salah satu bagian untuk memenangkan pertempuran, karena ia adalah kuantifikasi dari pemahaman kita terhadap materi kuliah. Bagaimana kita bisa meyakinkan orang lain bahwa kita ini orang yang layak, tanpa adanya suatu indicator keberhasilan yang terukur? Maka, bagi saya prestasi adalah salah 1 hal yang perlu dicapai, diantara 6500 hal yang lain. Bagaimana memenangkan 6500 hal itu? Ya dengan memenangkan satu demi satu hal. Termasuk masalah akademis, salah satu hal tersebut.

saya bukanlah orang pinter, apalagi jenius..tapi juga bukan orang bodoh, Insya Allah.  Dari 3x test IQ yang diadakan oleh pemerintah Provinsi Jawa Tengah terhadap duta-duta pendidikannya, IQ saya selalu dibawah 140. Parahnya, kita, para anak imut yang waktu itu  masih SMA, tidak pernah diberi tahu persisnya berapa IQ kita saat itu. 10 dan 139 sama-sama dibawah 140 lho.. iya kan? Oke. Itu intermezzo. Intinya, saya bukan anak jenius. Sumpah, bukan!

4 semester sudah saya menjalani kuliah di Jurusan TEknik Fisika UGM, program studi Teknik Nuklir. Nuklir boooooi..!! Alhamdulillah, baru 1x IP saya nggak cumlaude. Skali lagi, ini bukan pamer. Oke? Bagaimana caranya? Bukan dengan mengautis diri dengan belajar tanpa melakukan kegiatan lain tentunya.. saya ini, paling suka jalan-jalan, nonton, browsing, dan membaca hal lain yang tidak berhubungan dengan kuliah (baca Al Qur’an, baca sms, baca pengumuman, baca komik, baca apa aja deh), apalagi ngobrol sama temen, itu sudah menjadi hobi. Dan semuanya itu, membutuhkan waktu yang banyak. Lalu bagaimana dengan belajar? Saya tetap belajar, diusahakan setiap malam, walaupun sebentar, yang penting efektif. Ini ada beberapa saran:

  1. Jangan Terlalu Lama, Jangan Terlalu Sebentar

Bagi saya, waktu belajar efektif adalah selepas isya’, sekitar 1 jam saja, sudah cukup. Bagaimana kalo kurang dari itu? Ya nggak apa-apa juga. Tapi kalo terlalu sebentar, missal 15 menit, sesuatu yang kita pelajari hanya akan numpang lewat tanpa permisi dan pergi tanpa minta diantar. Ehm..apa y?? semacam tidak membekas gitu.

Jika lebih? Bagus, apalagi kalo materinya memang banyak. Tapi ingat, otak kita juga bisa saturasi, punya batas kejenuhan. Kalau terlalu lama, adanya malah kita menjadi jumud, males, dan tidak terlalu mengendap.

Intinya, diri kita msing-masing lah yang bisa mengukur seberapa lama otak kita bisa bertahan dengan efektif akan suatu pembelajaran. Kalau saya, sekitar satu jam saja selepas isya’.

  1. Hear-Ear-Focus

“Masalahnya adalah, ketika saya belajar, tetangga kos saya sangat berisik, sehingga susah untuk berkonsentrasi. Apalagi utuk mata kuliah yang butuh pemahaman tingkat tinggi. Itu gimana kak?” Ooo..dimana-mana tetangga kos emang gitu kok (upps..!). kalo saya tuh, pasang earphone. Setel music. “tapi itu kan kuliah pemahaman, kalo stel music malah ikutin nyanyi, jadi nggak focus dong”. Eiiiits..musicnya apa dulu bro? saya biasanya stel instrument. Jadi, kita bisa mereduksi noise dari tetangga kos, tanpa menghasilkan noise yang baru. Itu yang dalam ilmu akustika disebut sebgai “white noise”. Kita tetap bisa berkonsentrasi dengan apa yang kita hadapi tanpa  terganggu oleh faktor eksternal. Itu baru solusi B-)

  1. Make a simple notes

Saya adalah orang yang suka berkomentar, kadang secara langsung (kalau lagi berani) atau secara tidak langsung. Siapapun selalu saya komen-in.  bahkan orang sekaliber John Nash atau Lamarch. Buku, dokumen, catatan (walaupun itu catatan saya sendiri), bahakan e book, disampingnya sering saya bubuhkan catatan komentar pribadi. Paling nggak konklusi/ pemahaman saya terhadap 1 paragraf itu, atau 1 tulisan itu. Atau sebuah komentar tentang ketidak pahaman saya, itu juga penting.

Kenapa? Karena saat kita membuka kembali file tersebut, otak kita akan lebih cepat dalam proses serch dokumen yang pernah terekam oleh otak. Selain itu, menggerakkkan saraf motoric saat belajar akan membuat tangan kita untuk turut mengingat, bukan hanya dari otak.

  1. Bersih itu SEHAT

Masalah anak-anak kos adalah KEBERSIHAN. Bagaimana mau belajar dengan efektif kalau tempatnya sudah tidak kondusif. Nah, kalau saya, biasanya mengusahakan bersih-bersih dulu sebentar sebelum belajar dimulai.

  1. Ask

Nggak tahu tentang sebuah materi? Tanyalah.. bisa sama dosen, atau temen yang kau anggap lebih pinter. Biasanya saya sering Tanya ke temen, walaupun  dengan pertanyaan itu saya jadi dianggap bodoh. Nggak masalah lah, nggak papa dianggap bodoh, daripada nggak ngerti dibawa mati.(nggak segitunya kali des.. – -a)

  1. Makan bergizi,

Usahakan makan yang bergizi, perhatikan asupan energy untuk otak. Hindari junk food (kalau ini, saya juga sukaaa L). Ya ikhtiarkan lah…minum susu, kadang madu, atau yoghurt. Suplemen makanan kalau perlu, vitamin jangan lupa juga. Healthy inside, fresh outside. Hehehe😀

  1. tidur cukup

Nah, banyak yang mengartikan rajin belajar dengan belajar sampai larut malam, sampai dini hari bahkan. Atau ingin terbangun di dini hari tapi dengan cara yang nggak sehat. Seperti apa? Saya sering menemui teman sekos saya tidur di lantai tanpa alas, tanpa bantal, apalagi selimut. Saat saya ingatkan untuk tidur dengan proper, dia malah menjawab “ini biar ntar gampang bangun des..”. hufft…mau bangun malam bukan begitu caranya boiii…

Tidurlah dengan efektif, di kasur yang nyaman dan hangat, pakailah bantal, gunakan selimut. Siapkan tidur kita dengan baik, wudhu dulu, berdoa dulu, dan stel alarm. Saya percaya, saat tidur kita efektif, saat bagun kita pun akan efektif.

 

  1. The magic power of water

Ketika saya menempuh pendidikan di ITB, salah satu professor yang ahli di bidang kalkulus differensial mengajarkan para mahasiswanya untuk membawa air minum saat kuliah. Sebenarnya beliau ingin agar mahasiswanya banyak minum air putih. Kenapa? Dengan banyak minum air putih, kita terhindar dari dehidrasi dan logika kita lebih jalan. Begitulah..asas ini saya terapkan samapai sekarang. J

Nah, semoga saran-saran saya tadi bermanfaat. Hanya ingin sharing saja sebenarnya. Semoga kita semua bisa belajar dengan efektif, sehingga tidak ada sedikitpun waktu yang terbuang sia-sia karena kebodohan kita sendiri. Be productive, bekerja untuk Indonesia ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s