Home

Akhirnya saya tahu seperi apa rasanya kecewa. Banyak yang mengatakan bahwa kecewa adalah sebuah fenomena dimana ada ketidakbertemuan antara harapan dengan realita yang ada. Kemudian dikatakan bahwa jika kita menggantungkan harapan hanya kepada Allah semata-mata, tidak akan pernah ada kekecewaan. Jika kita kecewa pada seseorang, itu karena kita terlalu berharap lebih padanya sedangkan dia tidak memberikan output seperti yang kita harapkan. Itu benar, sangat benar.

Hanya, saya ingin mencoba melihat “kekecewaan” dari sudut yang lebih manusiawi. Mungkin dari sudut yang bisa memaklumi orang yang mengalami kekecewaan.

Pernahkah kita coba berpikir kenapa ada seseorang/ beberapa orang/ sekelompok sekte tertentu yang kecewa terhadap diri kita? Atau sistem yang kita ikuti? Atau kita hanya sekedar “menghujat”, menjauhi, membuang, dan mengatakan bahwa mereka adalah golongan BASAH (BArisan SAkit Hati)…? Pernahkah? Mungkin tanpa sadar kita telah mendiskriminasikan mereka.. mungkin, mereka bukanlah orang yang terlalu dianggap, atau tidak sedianggap sebagian yang lain. Mungkin kita kurang mengapresiasi kerja mereka. Mungkin kita merasa hanya diri kitalah yang bisa dan mampu menyelesaikan hal ini dan itu sehingga enggan memberikan kepercayaan itu terhadap orang lain. Mungkin kita menganggap diri kita terlalu hebat..terlalu kuat… padahal pemikiran itulah yang membuat diri kita menjadi rapuh..yang sebenarnya.

Atau mungkin, saat mereka hendak pergi menjauh, kita tidak berusaha menariknya kembali. Perasaan adalah hal yang susah dimengerti, kawan… bisa jadi seseorang “mengancam” akan menjauhkan diri dari komunitas kita, hanyalah sebuah sinyal yang ia berikan untuk mengetahui bagaimana respon transient kita : apakah kita membiarkannya pergi, atau menahannya karena kita masih menyayanginya..?

Kawan…jikalau selama ini saya melihat ada banyak orang-orang yang mengalami kekecewaan, akhir-akhir ini saya mengalaminya sendiri. Mungkina ada yang akan berkata bahwa saya konyol, kekanakan, atau tidak tahu kondisi. Whatever they say, saya merasakan betapa sakitnya merasakan rasa kecewa itu. Kecewa melihat orang yang tidak bisa mempercayakan seuatu pada orang lain, apakah dia akan meakukannya sendirian sampai akhirnya dia mati? Dia tidak akan pernah bisa membuat orang lain menjadi lebih baik. Kecewa ketika keberadaan saya hanya dijadikan pelengkap prosedur yang seharusnya ada, tidak pernah benar-benar dianggap keberadaannya, sebagai seorang “saya”. Kecewa ketika kekhilafan kita dibicarakan dan dipertontonkan dihadapan banyak orang, apakah menjamin bahwa dosa ghibah yang ditimbulkan tidak sebanyak dosa kekhilafan yang saya lakukan? Kecewa ketika saya mencoba pergi, dan tidak ada satupun yang mengulurkan tangannya untuk menarik saya kembali…

Sejujurnya rasa cinta itu begitu dalam.. saya mencintai terlalu dalam. Cinta yang benar-benar bersih, insya Allah. Kemudian saya ragu, apakah mereka juga mencintai saya seperti saya mencintai mereka? Itulah pointnya..saya belum tahu bagaimana sebenarna perasaan mereka terhadap diri saya yang kecil ini. Mungkin saya bukanlah orang yang sebaik mereka harapkan. Dan saya menyadari itu. Saya memiliki banyak keterbatasan, tapi juga memiliki peasaan seperti mereka memiliki perasaan.

Tapi, apakah dengan berbekal kekecewaan itu saya beranjak pergi dan meninggalkan ini selamanya? Agaknya saya perlu mempertimbangkan 1000 kali sebelum berkeputusan demikian. Kenapa? Ada berapa orang yang membuat saya kecewa? 5? 10? 15?? Mungkin juga tidak sebanyak itu. Jumlah itu sangat tidak mewakili suatu jumlah yang sejatinya berjumlah 800ribu-an lebih.. ataukah pada sistem saya kecewa? Agaknya juga perlu ditengok kembali : jika kita kecewa dengan rumah kita yang kotor, apakah kita akan “minggat” dari rumah sedangkan dunia diluar sana kita sangat kejam, ataukah kita berusaha mencari sapu dan membersihkannya? Walaupun seisi rumah hanya diam memandang tanpa membantu.. saya tahu, dan semua orang juga tahu jika keputusan kedua lah yang lebih realistis.

Jadi, bagi saya, kecewa itu sah-sah saja. Karena itu menunjukkan kalau kita masih cinta. Yang tidak benar adalah pergi begitu saja karena kecewa, karena menganggap segelintir orang yang membuatnya kecewa merupakan representasi dari sekian banyak jumlah yang ada (bahkan menurut teori statistika pun ini tidak dapat diterima). Atau lebih gila lagi, meninggalkan rumah karena rumah kita “agak” kotor, padahal sebenarnya kita bias membersihkannya, walaupun dengan susah payah.

Semoga ini semua bukan pembenaran, atau pembelaan diri terhadap apa yang sedang saya alami. Kita belajar kekecewaan dari banyak hal. Semoga, bisa menjadi muhasabah bagi diri kita masing-masing untuk tidak selalu menyalahkan orang lain atas apa yang terjadi.

Yogyakarta, December 28, 2011

Ditulis dalam ujian kesempitan harta dan cinta

4 thoughts on “SAYA PERNAH KECEWA! KAMU?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s