Home

If history repeats itself, and the unexpected always happens, how incapable man must be of learning from experience. (Gerge Bernard Shaw, 1856-1950).

Islam pernah menorehkan sejarah yang luar biasa hebatnya, di zaman angkatan awal para sahabat yang dibina langsung oleh Rasulullah SAW, sebuah entitas yang kecil (sangat kecil dibandingkan penduduk jazirah arab saat itu) mampu membuat gebrakan perubahan yang luar biasa: merubah kepercayaan, pola pikir, dan cara hidup, yang kesemuanya itu membawa mereka pada satu tujuan besar yang sama, menegakkan kalimat Allah dimuka bumi. Penaklukan demi penaklukan dilakukan, bukan untuk memuaskan hawa nafsu akan kekuasaan, namun semata-mata untuk menyeru manusia supaya menyembah Allah saja, bukan menyembah kepada sesama mahluk. Karena sesungguhnya Allah mencegah sesuatu dengan kekuasaan apa yang tak dapat Ia mencegahnya dengan Al-Qur’an. Cerita indah itu terus berlanjut, Andalusia, Balkan, Cyprus, Italia Utara, dan pulau-pulau di laut Roma, semuanya berada dalam pangkuan Islam.

Itu sejarah. Hanya sejarah! Hanya sejarah??

Dalam awal tulisan ini saya kutipkan perkataan dari seorang dramawan Irlandia, George Bernard Shaw, yang mengatakan bahwa manusia merupakan mahluk yang unik dan agak aneh, sekalipun sejarah selalu berulang, manusia sangat sulit bahkan tidak mampu untuk tidak mengulangi sejarah yang buruk. Dia mengatakan tentang kesadaran sejarah! Dan kita, umat Islam, sudah memiliki model sejarah yang ideal, sangat ideal yang diajarkan, dicontohkan, dan dibuktikan langsung oleh manusia yang paling mulia, Rasulullah SAW.

Sejarah kebangkitan umat itu akan berulang, pasti. Hanya bagaimana kita menjemputnya. Ya kita, bukan siapa-siapa. Kita adalah representasi dari generasi muda Islam yang terdidik dan terpelajar. Iya, betul, kita, para da’i yang masih berstatus mahasiswa, Insya Allah. Menurut Arbi Sanit, mahasiswa adalah kelompok masyarakat yang paling lama mengalami pendidikan dan telah mengalami proses sosialisasi politik terpanjang di antara angkatan muda. Hebat bukan?? Apalagi yang perlu dipertanyakan apabila mahasiswa tersebut adalah da’i? orang yang sudah berjanji setia untuk menolong agama Allah, memerangi yang bathil, supaya tidak ada lagi fitnah dan agama semata-mata hanya bagi Allah.. sebuah mentari harapan muncul disana, disela-sela hitam pekatnya kebobrokan dan kehancuran umat.

Dan kita semua berafiliasi disini, aktivis pencinta surga ini, insya Allah juga untuk tujuan yang sama. Sejarah itu akan berulang, kawan. Dan kita sedang menjemput sejarah kejayaan umat itu dengan “cara kita” masing-masing, yang kita implementasikan saat kita (masih) berada di kampus. Bermula dari UGM tercinta.

“cara kita” memang berbeda. Saya, dengan cara saya. Antum dengan cara antum. Namun, tetap terikat pada satu hal yang sama. Saya, kata orang-orang, berada di cara siyasi. Apasih siyasi itu? Menurut salah seorang tetua siyasi di UGM, siyasi itu bekerja pada daerah yang gersang dan kering, dan tugas kita adalah untuk menyiraminya hingga subur dan berbuah. Buah yang bisa dirasakan oleh semua orang. Bagi saya pribadi, berada di siyasi merupakan sebuah hadiah tersendiri. Kesempatan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya. Jika kata syukur memiliki derajat yang lebih tinggi dari cinta, maka saya ingin mengatakan : saya bersyukur berada di siyasi. Semoga, sesedikit-sedikitnya kiprah saya, dapat memberi sumbangsih terhadap dakwah, dalam rangka penjemputan sejarah yang diimpikan oleh setiap insan yang beriman. Antum dengan cara antum, yang pasti sudah menceritakan juga bagaimana “cara kita” versi antum. Entah itu bernama da’awi, ilmy, sya’bi, i’lamy, apapun.. all of that are really awesome!

Orang Perancis mengatakan, du chocs des opinions jaillit la vertile, dari benturan berbagai opini akan muncul sebuah kebenaran. Perbedaan pendapat bila digelar secara jujur dan lugas dengan mengingat tanggung jawab pasti akan melahirkan pemikiran yang lebih segar. Lagi-lagi, orang prancis mengatakan du chocs des ides jailit la luminiere, dari berbagai gagasan akan muncul sinar (kebenaran). Atau seperti dikatakan orang inggris, from the shock of ideas spring forth light. Berbeda pendapat bersama kalian lebih saya sukai dari pada merasa benar dengan apa yang ada pada diri. Sebuah kebenaran akan tergagas dari banyaknya kepala yang peduli. Apalagi jika “orang-orang itu” adalah orang yang se-iya se-kata dalam keimanan dan ketaatan. Berjuang bersama kalian sangat saya syukuri, meski hanya sebentar. Meski kisah kita tertanggal, karna waktu kita di kampus memang terbatas. Insya Allah sinar cinta dan cahaya kesyukuran itu masih ada dan akan selalu ada. Masih teringat dan akan selalu dikenang. Sampai akhirnya kita saling mempersaksikan dihadapan-Nya : “Ya Rabb, inilah dia orang-orang yang saya cintai karena-Mu didunia. Inilah orang-orang yang saya berani bersaksi dihadapan-Mu bahwa dahulu, ketika semua orang berlari menjauh dari cahaya kebenaran, dia datang dengan penuh kekhusyu’an. Ya Rabb, kami telah bersama di dunia. Sebentar, hanya sebentar. Saya masih mencintainya, Ya Rabb.. jadikan kami bertetangga di jannah-Mu”

Yogyakarta, 19 January 2012

07:23 AM

Destiana Tunggal Pramesti

2 thoughts on “Caraku Mencintai :)

    • haha..biarin :p
      cinta nya untuk saudara seiman laaaaaaah, semuanya. siyasi kan saya bilang sbg “caraku mencintai”
      cara mencintai dengan yang dicintai kan beda, yang pertama mengacu pada keterangan cara (atau bsa dikategorikan predikat juga) sedang yg kedua adalah objek.
      itu menurutku sih🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s