Home

Pagi ini bukanlah pagi biasa. Saya menyiapkan dari juga bukan untuk pergi ke tempat biasa. Pagi ini pagi yang istimewa, saya ingin bertemu dengan seorang dokter yang saya kagumi dalam sebuah acara yang saya tunggu-tunggu selama liburan ini. Tepat jam 8 saya sampai di tempat tujuan, Masjid Mujahidin UNY. Sang dokter belum datang disana, namun sudah ramai orang yang menunggu beliau, berharap mendapatkan cerita dari saksi sejarah langsung. Sang penulis buku “Jalan Jihad Sang Dokter”.

Beliau bernama dr. Joserizal Jurnalis, Sp.OT. sebenarnya acara yang saya ikuti pagi ini adalah bedah buku yang beliau tulis sendiri selama ekspedisi-ekspedisinya menjadi relawan di daerah-daerah konflik: Ambon, Checnya, Afganistan, Irak, Palestine (jalur Gaza). Terutama yang membuat saya merinding adalah Gaza. Memang, acara yang digagas oleh teman-teman MER-C (Medical Emergency Rescue Committee) Yogyakara itu bertajuk Cain For Gaza.

Gaza… itulah yang saya maksud sebagai penjara terbesar yang pernah ada di dunia, seperti tertulis dalam judul tulisan ini.

Bagaimana saya tidak merinding, disana diputarkan video buatan MER-C tentang konflik di Gaza, kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan Israel (especially penggunaan senjata bilogis dan dampaknya terhadap warga sipil di Gaza), juga diperlihatkan keadaan warga disana. Astaghfirullahal’adzim.. memang biadab Israel itu.

Ba’da tahmid wa sholawat, dilantunkanlah ayat suci Al Qur’an dengan sangat tartil dan membuat bulu kuduk merinding oleh salah seorang ikhwan SKI UNY.  Jangan tanya siapa namanya, saya tidak begitu mengingatya. Sambutan oleh mantan wakil walikota DIY, beliau juga mantan aktivis, kalau tidak salah pimpinan pemuda Muhamadiyah DIY. Ah, sampai detik itu saya belum mengeluarkan notes sakti saya, maka saya tidak bisa menyebutkan namanya sekarang. Sayang sekali. Tapi saya mengingat dengan baik apa yang beliau katakana di pidato gaya pejabat tersebut (saya katakana pidato gaya pejabat karena setiap kata yang beliau ucapkan sepertinya dipilih baik-baik, diucapkan dengan pronounce yang tidak sembarangan, dan tempo antar kata yang sangat diatur; semua itu menimbulkan kombinasi yang apik). Beliau bericara mengenai Angkatan Muda Islam, sebuah istilah yang jarang digunakan barang kali oleh teman-teman selama ini. Beliau tidak mendefinisikan dengan jelas apa yang dimaksud dengan angkatan muda Islam, namun sepertinya semua orang sudah seiya sekata mengenai makna frase ini. Menurut beliau, kebangkitan Negara bergantung pada angkatan mudanya. Jika kita berbicara dengan perspektif yang lebih luas, kebangkitan umat, juga tergantung pada angkatan mudanya. Entah Negara, entah umat, entah dunia..angkatan muda yang pantas diharapkan adlah angkatan muda islam. Kenapa? Karena angkatan memuda Islam membawa Al Qur’an di tangan kanannnya, ilmu di tangan kirinya, dan bermahkotakan aqidah Islamiah di atas kepalanya. Itulah angkatan muda islam. Itulah syarat kebangkitan suatu Negara, suatu umat, bahkan dunia. Sampai disini saya manggut-manggut mengiyakan. Dengan 3 syarat tersebut, saya pikir tidak ada alasan suatu generasi muda mengalami krisis moral, mlempem ilmu,  dan nggak paham agama. Intinya, generasi muda yang sedang diharapkan bangsa ini HARUS bisa dipegang agamanya, ilmunya, dan moralnya. Yakin deh!

Ah, ini belum seberapa..

Acara dilanjutkan dengan pemaparan MER-C oleh Bapak Sayuki, spesialis bedah (maaf, tidak bisa menuliskan lengkap dengan gelarnya), beliau adalah ketua MER-C daerah Jogja. Sumpah, tadi saya baru tahu sebenarnya MER-C itu lahir karena latar belakang konflik ambon di tahun 1999. Pantas saja, LSM yang bergerak di bidang pelayanan medis gawat darurat ini berdiri pada 1 Agustus 1999. Sejak saat itu, MER-C selalu terdepan, terlibat, ketika ada suatu konflik di suatu daerah sebagai volunteer di bidang medis, nggak peduli tempatnya dimana. Hmm, MER-C.. betapa irinya diri ini melihat kerjamu. Saat ini MER-C sedang memfasilitasi silaturahim jangka panjang rakyat Indonesia-Palestina, yakni dengan pembuatan Rumah Sakit Indonesia (RS Indonesia) yang didirikan di Bayt Lahiya, Gaza Utara. Akhirnya saya tahu juga, sebenarnya inti dari acara ini adalah membahas silaturahim jangka panjang tersebut.

Nah, ini bagian inti. Dan dr. Joserizal pun berbicara… J

Beliau sebagai keynote speaker, dan ditemani seorang pembicara lagi dari kalangan mahasiswa, yakni Aqil Wilda Arif. Kak Aqil ini adalah mahasiswa Teknik Industri UGM angkatan 2007, beliau termasuk 1 diantara 4 orang yang beruntung dari rombongan Indonesia yang dapat masuk ke Jalur Gaza dalam konvoi VIVA PALESTINE V (saat itu bersama Umi Yoyoh Yusrah Alm.).  Sedikit beliau bercerita mengapa menjadi relawan, di daerah konflik pula. Apakah karena beliau dokter dengan pasien do-re-mi-fa sol? Tidak..bukan itu. Beliau adalah salah satu ahli bedah ortopedi yang kondang, bahkan sangat diperhitungkan dikalangangannya. Beliau menjelaskan, memilih jalan hidup yang demikian karena memang itu visi hidupnya: menjadi dokter untuk membantu sesama, saudara sesama muslim apalagi. Beliau bukanlah social worker, beliau adalah volunteer. Beda! Social worker adalah pekerja social seperti anda bekerja di daerah konflik atas nama UN, gajinya luar biasa besar. Kalau volunteer, ya kayak relawan-relawan MER-C ini, ga digaji. Begitupun Kak Aqil, beliau adlah volunteer.

Pertanyaannya adalah, kenapa Gaza? Kenapa harus jauh-jauh kesana padahal rakyat Indonesia sendiri memprihatinkan keadaannya? 1 tahun lalu saya pernah terjebak dalam debat mengenai hal ini. Hufft.. mereka yang mengatakan hal itu berarti belum tahu bagaimana kondisi rakyat Gaza. Mereka dibombardir habis-habisan akhir 2008 yang lalu. 3000an orang syahid, 400an diantaranya wanita dan anak-anak. Perang yang adapun tidak sepadan, ditambah lagi kejahatan-kejahatan perang yang dilakukan oleh Israel. Meskipun mereka menyangkal, dunia tetap tidak buta dan tidak tuli: Israel menggunakan senjata biologis. Masya Allah.. ribuan hafidz-hafidzoh gugur…

Itu baru saat perang!  Sekarang? Gaza bak penjara terbesar didunia yang pernah ada. Jalur utara berbatasan langsung dengan Israel. Akses masuk ke Gaza, sejauh ini ada 7 check point, yang kesemuanya dijaga ketat oleh tentara misil Israel, kecuali satu tempat, yakni Gerbang Raffah yang berbatasan langsung dengan Mesir. Bisa dibayangkan, anda tidak bisa membeli gandum atau terigu, apalagi susu. Jangankan mainan facebook, jaringan telpon saja susah. Mereka terkurung. Bantuan kemanusiaan yang akan masuk kesana dihalang-halangi. Masih ingat kan, dengan tragedi Mavi Marmara? Viva Palestine juga harus menunggu sampai berbulan-bulan baru bisa masuk jalur Gaza. Saya tidak bias membayangkan bagaimana jika saya, seorang wanita, memiliki bayi/anak kecil, dan sedang tinggaldi Jalur Gaza, sementara tempat yang saya tinggali di blokade sedemikian rupa. Wanita manapun, manusia manapun yang memiliki hati pasti akan tergerak. Ah..belum lagi dengan korban perang dan penembakan-penembakan yang tidak bertanggung jawab. Trauma, cacat fisik, dan masih banyak yang lain..

Mungkin sebagian bertanya “mereka susah masuk, emang lewat check point yang mana”. Yang Raffah, saudaraku..lewat Mesir, NEGARA ISLAM!! Kenapa juga mereka sebegitu mempersulitnya? Ini sudah bukan masalah agama lagi, ini masalah kemanusiaan. Astaghfirullahal’adzim…

Bantuan kemanusiaan terus digalakkan. Oleh karena serangan 22 hari di akhir 2008 lalu mengetuk hati para warga dunia, termasuk Indonesia, terkumpullah bantuan yang lumayan besar nilainya. Selain bantuan diberikan secara langsung, cash maupun barang, maupun obat-obatan, MER-C berinisiatif untuk memberikan bantuan jangka panjang, yang Insya Allah takkan pernah habis. Yakni dalam bentuk rumah sakit. Saat ini pembangunan rumah sakit yang dinamai dengan Rumah Sakit Indonesia tersebut sudah sampai 80%, Insya Allah tinggal melengkapi 20 % saja. Sayang, 20 % tersebut bukan dana yang sedikit.

Salah satu goal dari acara tadi adalah untuk menggalang dana 20 ribu/ orang untuk penyelesaian pembangunan rumahsakit tersebut. Mengenai bagaimana deskripsi dan detail dari rumah sakit tersebut, Insya Allah akan saya ceritakan dalm postingan selanjutnya…kalau semua ditulis sekarang akan terlalu panjang.

Finally, malulah kita apabila kita menjadi selemah-lemah muslim. Melihat saudara sendiri terkapar dalam perang, menangis dalam penderitaan, hanya bias memberikan bantuan berupa doa. MALU!! Malu sama Allah! Mereka tidak sedang meminta dari kita, tapi kitalah yang seharusnya paham dan mengerti kondisi mereka. Silakan, 20 ribu per bulan saja saya rasa sangat ringan, sangat tidak sebanding dengan uang yang kita habiskan untuk makan, jajan, atau sekedar membeli pulsa.

Inilah ladang amal jariyah bagi kita semua :

Ke Web MER-C

BSM Cabang Kramat , atas nama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C)

No Rek: 0090121773

—————————————————————————————————-

Masjid Mujahidin, 5 Februari 2012

Destiana Tunggal P

4 thoughts on “Greatest Prison in The World, Ever! (yang membuat saya merinding pagi ini)

  1. Pingback: Nama Yang Tertulis (Lanjutan Posting “Greatest Prison in –) « AeroDest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s