Home

Hanya ingin melanjutkan postingan sebelumnya: Greatest Prison in The World, Ever! (yang membuat saya merinding pagi ini)

—————————————————————————————————————————————-

Saat langit berwarna merah saga

Dan kerikil perkasa berlarian

Meluncur laksana puluhan peluru

Terbang bersama teriakan takbir

Semua menjadi saksi

Atas langkah keberanianmu

Kita juga menjadi saksi atas keteguhanmu

 

KetikaYahudi, Yahudi membantaimu

Merah berkesimbah di tanah airmu

Mewangi harum genangan darahmu

Membebaskan bumi jihad Palestina

(Shoutul Harokah, Merah Saga)

Malam ini suara Shoutul Harokah kembali bertalu-talu menggairahkan kamar asrama yang saya tempati. Membuat ruangan yang hanya berukuran 3 x 3 meter itu terasa ramai oleh gemuruh suara perlawanan, semangat, sekaligus kemarahan. Betullah apa yang disabdakan Rasulullah, iman itu naik dan turun. Dan yang saya rasakan, semangat itu juga naik dan turun. Mungkin semangat itu memang berkorelasi dengan keimanan..

Karna naik dan turun itulah, maka keimanan (juga semangat) memang perlu diperbaharui, di-update. Tentu dengan mendekatkan diri pada Allah, menjauhi maksiat, dan berbuat baik/ beramal. Ya Allah, semoga coretan ini juga termasuk sebagai salah satu upaya kami untuk beramal saleh: menjadi pengingat bagi diri dan membuat tergerak hati-hati hamba-Mu..

Mengenai janji saya, saya memang ingin melanjutkan apa yang sudah saya sampaikan di postingan yang lalu. Mengenai rumah sakit Indonesia di Gaza, Palestine. Kenapa sih, harus rumah sakit?

Semua berawal dari agresi Israel 27 Desember 2008 sampai dengan 22 hari setelahnya. Pada fase emergency setelah Israel memuntahkan rudal dan bomnya ke wilayah Gaza, MER-C banyak menemui korban-korban agresi dengan luka (trauma) berat bahkan harus kehilangan anggota tubuhnya. Iya, semua itu gara-gara bom dan rudal Israel yang membabi buta. Tim MER-C juga melihat bahwa RS di Gaza kewalahan menampung korban yang begitu banyak, terlebih lagi wilayah Gaza Utara yang berbatasan langsung dengan Israel. Sebagai sebuah wilayah perang, Gaza hanya memiliki 1 RS rehabilitasi yang itupun tidak luput dari serangan Israel.

Akhirnya 23 Januari 2009, tim MER-C didampingi beberapa wartawan dari Indonesia bertemu dengan MenKes Palestine di Gaza, dr. Bassim Naim. Disampaikan lah I’tikad baik mengenai pembangunan RS Indonesia di Gaza. Tentu saja, niat mulia ini disambut baik oleh pemerintah Palestine..tanpa proses panjang dan berbelit, dibuatlah MOU antara (atas nama) Rakyat Indonesia dan (atas nama) Rakyat Gaza.

Kok berani sih mau nyoba bangun RS? Karena saat itu jumlah donasi dari rakyat Indonesia cukup besar. Sambil jalan, Insya Allah bisa J

Pembuatan RS Indonesia inipun penuh lika-liku. Singkat cerita, pembuatan RS ini mendapat restu dari MenKes RI saat itu (bu Siti Fadilah Supari), mendapatkan tanah wakaf dari pemerintah Palestine, membuka cabang MER-C di Gaza, dan mulai membagun RS tersebut (14 Mei 2011). Pemborongan dilakukan dengan open tender secara fair, dan pembangunannya diawasi langsung oleh para engineer dari Indonesia, tentu saja para engineer disini juga volunteer alias tidak digaji!

Sekarang? Menurut dr. Joserizal, pembangunan RS ini sudah 80 % di tahap I (tahap I adlah tahappembuatan bangunan, tahap II adalah pemasngan instalasi dll). RS yang terletak di Bayt Lahiya, Gaza Utara ini berkapasitas 100 tempat tidur dan bertipe Trauma Center & Rehabilitation. Berdiri gagah di tanah seluas 16an Ha, dan merupakan RS terbesar dan terindah yang ada di Gaza. dan yang lebih indah lagi, tulisan besar yang terpampang disana adalah “RUMAH SAKIT INDONESIA (RSI)”. Subhanallah…

Menurut data dari MER-C, total biaya yang dibutuhkan untuk pembangunan RS ini adalh sebesar 30M, dan donasi yang sudah terkumpul sd Oktober 2011 adalah 17,4M. Jadi, dana yang dibutuhkan sekarang adalh sebesar 12,6M. Hmm…

Mengenai kekurangan dana, ada sebuah cerita unik yang disampaikan oleh dr. Joserizal saat bedah buku tempo hari. Jadi, beberapa waktu yang lalu ada (semacam) symposium charity untuk Palestine, dihadiri oleh Negara-negara yang ada di dunia, termasuk Indonesia. Saat itu, Indonesia diwakili oleh Bapak Taufik Kemas (Ketua MPR ya??). kebetulan dr. Jose datang juga, bersama relawan2 MER-C yang lain, atas nama MER-C. Dalam symposium tersebut, ternyata ada sesi presentasi dari masing-masing Negara peserta tentang apa yang sudah mereka berikan untuk membantu rakyat Gaza. Kontan Bapak Taufik Kemas dan para wakil dari pemerintahan Indonesia “kelabakan”..apa yang sudah diperbuat/diberikan oleh Negara Indonesia? Nah, saat itulah teman-teman MER-C “menyelamatkan muka negeri” dengan bercerita tentang Rumah Sakit Indonesia. Maka ceritapun bergulir hingga salah satu Negara peserta bertanya “wah, ini ide yang sangat hebat sekali.. apakah sekarang sudah jadi RS nya?”, dan dijawab oleh teman2 MER-C “belum, belum sempurna. Masih dalam pengerjaan”.  Mereka bertanya lagi “kenapa belum selesai, padahal waktu pengerjaan sudah sangat lama..”, dan dijawablah “biasa Pak, masalah finansial. Kami masih mengumpulkan dana”.

Mendengar hal tersebut sontak Negara-negara peserta symposium menawarkan bantuan, salah satunya adalah Iran. Kata mereka “jangankan memberikan 20 %, kami bantu sampai benerbenerbener jadi saja Insya Allah sanggup. Mari kita teken kontrak saja, kontrak kerjasama”. Hmm..tawaran yang menggiurkan. Bahkan pemerintah RI pun tidak berani menawarkan demikian. Iran dan Indonesia samasama negeri yang kaya akan sumber daya alam, namun iran kaya dan Indonesia miskin. Hmm, zakat tambang di iran saja besarnya 20 % lho..sedangkan di negeri kita ini, boro-boro zakat 20 %, kontrak karya pertambangan saja tidak sampai 10 % (itu bukan zakat, tapi semacam bagi hasil antara korporatokrasi asing dengan Indonesia). Aah..jangan dibandingkan deh, iran memang luar biasa kaya, 12.6M IDR untuk menyelesaikan pembangunan RS Indonesia di Gaza bukanlah apa-apa.

Tapi apa jawaban teman-teman MER-C atas tawaran emas tersebut? Tidak! Mereka menolak. Bukan karena gengsi atau sombong, tapi karena mereka ingi dan memiliki azzam yang luar biasa kuat untuk menjadikan RS ini menjadi masterpiece, hadiah, yang benar-benar murni dari rakyat Indonesia, bahkan pemerintahpun tak dimasukkan…

Itu yang mereka bela, itu yang sedang diperjuangkan. Betapa saya ingin seperti kak Aqil atay dokter Joserizal, benar-benar pergi kesana dan membantu. mungkin saat ini belum bias demikian, ada begitu banyak keterbatasan, semoga sampai pada waktunya yang tepat nanti..

Setidaknya ada sebagian/sepotong dari diri ini yang tinggal dan menetap disana. Iya, tinggal disana dan memberi kemanfaatan. Sepotong diri itu adalah harta kita, nafkah kita. Nama kita akan tertulis abadi, mengokohkan setiap dinding yang menjadi pelindung dan penolong bagi para korban perang Gaza. Dan untuk setiap amal dan kebaikan yang terjadi karena adanya RS tersebut, saldo pahala akan selalu mengalir ke rekening amal kita.

Tujuan saya menulis ini masih sama dengan yang sebelumnya, yaitu untuk mengabarkan apa yang sedang terjadi dan direncanakan terjadi, sekaligus mengajak semua yang membaca tulisan ini untuk memberiakan donasi. Tak perlu muluk, atau dianggap berat.cukup 20 ribu/ bulan saja..insya Allah jika itu dijalankan secara istiqomah sekaligus kita mengajak yang lain, maka 20 % kekurangan itu akan segera terkumpul, dan RS yang diimpikan oleh saudara-saudar kita di Gaza tersebut dapat segera terealisasi.

Ayoklah, mariii salurkan donasi Anda:
Bank Syariah Mandiri (BSM), Cabang Keramat

Acc. No. 009.0121.773

Atau

Bank Central Asia (BCA), Cabang Kwitang

Acc.No. 686.0153678

Keduanya atas nama Medical Emergency Rescue Committee (MER-C)

(coba juga ke situs resmi MER-C)

 ———————————————————————————————

Asma Amanina, 11 Februari 2012 (12:07 AM)

Destiana Tunggal P

4 thoughts on “Nama Yang Tertulis (Lanjutan Posting “Greatest Prison in –)

  1. serius des tawaran itu ditolak dengan alasan demikian?
    MER-C menolak uang dari iran untuk menyelesaikan RS hanya karena pgen RS itu jadi masterpiece?
    cb di cross check dlu ap bener itu alasannya, karena menurutku justru itu gak manusiawi banget, apa yang lebih penting? master piece atau selesainya RS Indonesia itu, fungsi akhirnya kan RS, dan dibutuhkan urgent, knp harus ditolak bantuan dananya, smg kata2mu itu bukan semata alasan MER-C,,

    • heh, kayaknya aku yang salah kalimat deh. bukan karena sisi “masterpiece” nya, tapi karena masih memiliki keyakinan bahwa rakyat Indonesia (yang sedemikian besar jumlahnya) insya Allah masih mampu untuk menyelesaikannya sendiri.

      • Setuju sekali, Indonesia sebagai bangsa yang besar, dan penduduk muslim terbesar di dunia, insya allah sanggup mneyelesaikannya. Bayangkan saja, DPR dengan mudahnya mengeluarkan anggaran utk satu ruangan Banggar sampai 20 Milyar, padahal kalo uangnya digunakan untuk menyelesaikan RSI sangat lebih dari cukup. Bravo untuk MER-C dengan semangat menggalang dana ngecrek dari masjid ke masjid, sekolah ke sekolah kampus ke kampus, Insya Allah lebih Rakyat Indonesia merasa lebih memiliki RSI ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s