Home

Shinkansen

Pernah melihat gambar ini?? Yup, anda benar. Inilah Shinkansen, kereta super cepat di Jepang yang jarak antara Tokyo-Sendai dapat ditempuh hanya selama 1 jam 15 menit. Padahal, jarak yang sama jika ditempuh dengan bus memakan waktu hampir 6 jam. Namun kenyamanan itu juga memiliki harga yang mahal, tiket shinkansen Tokyo-Sendai dibandrol dengan harga sekitar 12.000 Yen atau setara dengan 1,4 juta rupiah! Saya lebih memilih menghabiskan waktu 6 jam duduk manis di bus daripada menghabiskan uang sedemikian besar hanya untuk naik kereta elit. Tapi apa boleh dikata, namanya juga rejeki. Hari terakhir di Sendai kami digiring ke Stasiun dan diberi tiket Shinkansen! I’m really lucky girl!!!

Inside the Shinkansen

ticket

Rasanya seperti apa? Mirip naik pesawat. Halus mulus, lebih halus dari naik subway/electric train biasa di Jepang. Ah…so fast! Pelayanannya pun hampir sama dengan di pesawat. Kalau suatu saat anda ke Jepang dan sedang kelebihan uang, cobalah naik kereta super cepat ini untuk menjangkau daerah-daerah yang jauh. Awesome!

Bukan ingin pamer apalagi membuat anda iri dengan bercerita mengenai Shinkansen.Saya hanya ingin berbicara mengenai efisiensi penggunaan energy dalam bidang transportasi.

Apabila kita membandingkan efisiensi penggunaan motor dibandingkan mobil, maka akan lebih efisien jika menggunakan mobil, ditinjau dari segi kapasitas jumlah energy yang digunakan per orang atau per berat penumpang yang diangkut. Belum lagi jika ditinjau dari segi volume yang dihabiskan. Misal untuk mobil yang berkapasitas 8 orang, volumenya hampir sama atau bahkan lebih kecil dibandingakn dengan 4 buah motor (asumsi 1 motor untuk 2 orang) yang dijejer/ditata.. padahal di mobil tersebut sudah ada space untuk barang.

Sekarang kita bandingkan antara mobil dengan bus. Daya mobil rata-rata adalah sebesar 50 HP (Horse Power = satuan daya), sedangkan bus dengan kapasitas 50 orang adalah sebesar 100 HP. Misal 1 mobil untuk mengangkut 5 orang, maka kita bisa menghemat 20 kali lipat dari energy jika dengan menggunakan bus (untuk mengangkut 50 orang). Selain itu tentu saja dilihat dari segi volume yang dihabiskan, menggunakan 1 bus untuk mengangkut 50 orang jauh lebih efisien daripada menggunakan 10 mobil untuk mengangkut jumlah yang sama.

Bagaimana dengan kereta? Kereta dengan daya 1000 HP dapat menarik paling tidak 10 gerbong penumpang, saya curiga bisa lebih. 1 gerbong bisa berisi 2 kali kapasitas penumpang bus, yakni sekitar 100 orang. Jika ada 10 gerbong, berarti ada sekitar 10×100 penumpang, atau 1000 penumpang. 1000 penumpang untuk daya 1000 HP. Dengan menggunakan kereta, kita menghemat 50% energy dibandingkan dengan menggunakan bus. Oleh karena itu, di negara-negara maju, mode transportasi utama mereka adalah kereta, baru kemudian bus, dan mobil/kendaraan pribadi lainnya siatnya hanya pendukung. Ini sangat berbeda dengan di Indonesia yang menggunakan kendaraan pribadi (motor dan mobil) sebagai mode transportasi utama, baru kemudian bus, dan terakhir adalah kerata api sebagai transportasi pendukung. Berkebalikan!

Suasana di dalam kereta di Jepang

Trust me, naik kereta api itu sebenernya lebih nyaman jika sudah ada system menejemen yang baik. Seperti di Jepang, Prancis, Jerman, dan negara-negara maju lainnya. Tidak perlu jauh-jauh, di Singapore saja MRT (Mass Rapid Transport) juga sudah menjadi angkutan keseharian yang diandalkan oleh para penduduk. Jika anda jalan-jalan keliling Singapore menggunakan MRT dan bus,

Kereta di Singapore (MRT)

Anda dapat merasakan betapa lenggang/lega nya bus di Singapore, orang lebih memilih menggunakan kereta karena lebih cepat, pasti, gampang, murah, dan nyaman. Begitupula dengan di Jepang. Jika menggunakan kereta api yang umum (bukan Shinkansen) baik subway maupun train, anda dapat menyingkat waktu perjalanan sekaligus menghemat uang. Perjalanan Chiba-Kanagawa menggunakan bus menghabiskan 3500 Yen (sekitar 350.000 rupiah)dalam waktu 3 jam, sedangkan dengan kereta hanya 1800 Yen (sekitar 180.000 rupiah) dalam waktu 1,5 jam.

Ini beberapa gambar yang membuktikan managemen yang baik dari sistem perkeretaapian di Jepang:

Departure-Arrival display di Station

insert your ticket here!

Ticket Machine

Soal Jepang lagi, kendaraan pribadi sangat jarang digunakan disana. Rakyat Jepang jauh lebih sejahtera dibandingkan Indonesia, artinya mereka tidak menggunakan mobil bukan karena tidak mampu membeli mobil. Mobil bisa saja dibeli, tapi bagaimana dengan parkir? Lahan parkir adalah lahan persewaan, sangat jarang orang yang memiliki parkiran mobil di rumahnya. Parking area rata-rata dipatok dengan harga 1000 yen (sekitar 100.000 rupiah) per 30 menit. Padahal berapa lama orang parkir dalam sehari? Jika anda bukan orang yang benar-benar kaya, maka anda pasti akan berpikir dua kali bahkan lebih untuk menhamburkan uang hanya untuk parkir.

Self Service Fuel Station

Hampir semua system transportasi menggunakan mode energy listrik. Kalaupun menggunakan mobil pribadi, di Jepang kebanyakan menggunakan hydrogen fuel cell. Dia ramah lingkungan. Sistem pengisiannya pun mudah saja, ada banyak SPBU hydrogen seperti halnya SPBU Pertamina di Indonesia. Ada lagi yang unik dari kampong doraemon ini, pelibatan manusia dalam public service sangat minimal. Misal untuk SPBU tadi, tidak ada penjaganya. SPBU disana sama seperti SPBU di US, self service. Sangat simple. Tiket kereta pun seperti itu, semuanya self service. Self service artinya otomatisasi dan meminimalisir adanya korupsi dan pungutan liar!

Hufft…Intinya saya ingin mengatakan bahwa mass transport jauh lebih efisien dari segi ketepatan dan penggunaan energy dari pada kendaraan pribadi. Mengirit menggunakan energy sama artinya dengan turunnya cost yang harus dibayar. Kalau begini kan rakyat senang, dan energy pun hemat. Tapi ya itu catatannya, harus ada management yang baik, dari segi bahan bakar (sebisa mungkin menggunakan listrik/hydrogen, bukan BBM), jalur, komponen pendukung, sumber daya, dan peraturan pemerintah. Mungkin Indonesia perlu memiliki perencanaan transportasi untuk masa mendatang. Saya khawatir akan tiba suatu masa di Jakarta macet total, atau Jogjakarta tak bisa bergerak. Saya juga pernah mendengar mengenai rencana pembangunan MRT di Indonesia. Kalaupun tidak bisa subway, dalam bentuk trainpun tidak masalah. Semoga para pemegang kebijakan di Indonesia lebih peka dan lebih bisa bergerak cepat dalam menangani krisis energy, transportasi, dan mental (korupsi/pungli) yang terus melanda negeri. Ah, betapa cintanya saya pada Indonesia dan betapa inginnya menyaksikan Indonesia memiliki kehidupan yang lebih baik. Kita memang harus banyak belajar, belajar disiplin, belajar berintegitas, dan belajar berkarakter!!

10 thoughts on “#episode2: Supaya Bisa Dijadikan Pelajaran Untuk Indonesiaku yang Semakin Sesak…

  1. Indonesia bukannya tidak mau menerapkan sistem transportasi publik yg nyaman seperti Shinkansen dan MRT, Indonesia telah berusaha namun dalam usahanya berbenturan dengan bisnis kendaraan di Jepang. salah satu donatur terbesar di Indonesia adalah Jepang untuk membuat public transportasi itu dan mereka juga punya kepentingan pasar di negeri ini untuk kendaraan motornya, kalau Negeri ini punya MRT bukan tidak mungkin motor dari negeri sakura udah ga laku lagi, bisa2 mereka kehilangan pasar, Itulah Indonesia ini telah direkayasa.. ^^

    thanks for share, I just want to blogwalking🙂

    • Yap. mereka sendiri (para engineer jepang) mengatakan bahwa Indonesia merupakan salah satu pasar empuk mereka. ah, tapi kalo kita mau, ambillah kebijakan yang tegas, pasti beres juga. yang penting itu kan kemauan dan usahanya.. Indonesia kan rumah kita, kita pemiliknya. mau orang lain ketok2 pintu jualan baju di depan rumah, kalo kita nggak mau beli karena sudah memutuskan akan menjahit baju sendiri kan juga tidak melanggar hukum. intinya kemauan. itu saja.

  2. Harga BBM naik saja, banyak yang marah-marah des… “kita merubah pola pikir” kadang itu yang susah🙂
    sy rasa, banyak yang sudah berfikiran seperti ini, tapi lebih banyak lagi keinginan-keinginan individu yang di dahulukan..
    Ayo kita UBAH!

  3. Tetapi sayang, dari 24 buah reaktor nuklir yang dimiliki Jepang hanya 2 yang beroperasi untuk memasok energi listrik, termasuk yang untuk menggerakkan Shinkansen. Miris….

    • 🙂
      ralat boleh? ada 54 reaktor nuklir yg dioperasikan jepang sebelum tragedi Fukushima. sekarang 52 non aktif dan cuma 2 buah yg masih beroprasi. kebutuhan listrik jepang sangat tinggi padahal.. nah, sekarang mereka kembali menggunakan BBM dan gas alam yang (katanya) juga mengeruk dari Ind😦

      • Hoho.. Iya.. Maaf telinga saya masih kurang tanggap sama bahasa Jepang. Kemarin juga sudah diralat sama senior..Hehe. Salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s