Home

Beberapa hari yang lalu saya dan teman-teman menonton film yang sedang ‘naik daun’, apalagi kalau bukan Negeri 5 Menara. Sebuah film yang apik, dan saya menyarankan anda untuk menontonnya. namun pesan saya, jangan mudah kecewa jika ada beberapa bagian dalam film yang agak berbeda denga novelnya. sangat tidak mudah untuk memvisualisasikan novel ratusan halaman menjadi film yang berdurasi sekitar 2 jam-an. Novel dan film memang dua karya seni yang berbeda.

Iseng-iseng ketika membuka kompasiana saya melihat ada pengumaman lomba review film tersebut. Dengan berbekal keberanian semangat go-nasional untuk tulisan-tulisan saya, maka saya putuskan untuk mengikuti kompetisi tersebut. Toh kompetisi tidak harus menang atau kalah, yang penting adalah berani mencoba untuk berpartisipasi. siapa tahu kan, lagi rejeki dan bisa dapat hadiahnya🙂
*ngarep juga siiih..

Yup, ini dia review saya. Silakan dibaca, dikomentari, dikritik, diumpat pun tidak masalah. semoga bisa menjadi evaluasi untuk tulisan saya kedepan.
atau Anda dapat membacanya di sini.

————————————————————————————————-

NEGERI 5 MENARA: Merajut Mimpi di Pesantren Madani

Bagi orang yang sudah menamatkan Novel Best Seller berjudul Negeri 5 Menara, awal Maret merupakan waktu yang ditunggu-tunggu untuk menikmati viasualisasi karya hebat ini dalam genre seni yang berbeda. Film yang berjudul sama dengan novel karya Ahmad Fuadi tersebut menyedot perhatian khalayak. Kita tentu tahu, dunia perfilman Indonesia sedang mengalami degradasi sehingga masyarakat memang ‘haus’ dengan film-film bermutu dan berkarakter seperti Laskar Pelangi, Denias, Hafalan Sholat Delisa, dan kemudian semua berharap Negeri 5 Menara (N5M).

Poster Film Negeri 5 Menara

Film Negeri 5 Menara mengisahkan seorang pemuda dari Minang bernama Alif (Gaza Zubizareta) yang melanjutkan sekolahnya di Pondok Madani. Alif sebenarnya berkeinginan melanjutkan pendidikannya di jenjang sekolah umum sehingga dapat masuk ITB dan menjadi seperti idolanya, Habibi. Apa boleh dikata, Amak-nya (Lulu Tobing) menginginkan Alif tidak hanya pandai dalam ilmu duniawi, namun juga paham ilmu agama sehingga dapat menjadi ulama seperti Buya Hamka. Alif kesal dan berusaha menolak. Sampai Ayahnya (David Chalik) berhasil meyakinkannya, Alif pun setuju dengan setengah hati.

Berbekal keyakinan yang setengah hati itulah Alif masuk ke Pesantren Madani, berkenalan dengan lima sahabatnya: Said (Ernest Samudra), Raja (Jiofani Lubis), Atang (Rizki Ramdani), Dulmajid (Aris Putra), dan Baso (Billy Sandy). Mereka memiliki kegemaran berkumpul dan berdiskusi di bawah menara masjid pondok, sehingga kelompok kecil ini dijuluki Sahibul Menara. Mereka memiliki impian untuk pergi ke negara-negara yang memiliki menara yang terkenal di dunia suatu hari nanti.

Di Pesantren Madani, alif dan sahabat-sahabatnya belajar banyak hal: kesungguhan, kerja keras, dan kreativitas. Kahidupan pesantren yang penuh dengan peraturan dan pengawasan menjadi pembelajaran tersendiri, apalagi mereka dibimbing oleh para ustad yang senantiasa memotivasi seperti Ustad Salman (Donny Alamsyah) serta pimpinan pesantren yang bijaksana, Kiai Rais (Ikang Fawzi). Di pesantren ini pulalah mereka mempelajari “man jadda wa jadda” yang menjadi mantra ampuh dalam membereskan berbagai macam tantangan dan kesulitan; dari memperbaiki generator pondok yang sering ngadat, kerja keras merayu Ustad supaya dapat menonton Uber-Cup berjama’ah, sampai meyiasati pentas akhir tahun yang hampir gagal karena salah satu personelnya harus keluar dari pondok. Berbagai masalah yang ada dalam film ini memberikan pesan pada penonton bahwa dengan kesungguhan, seberat apapun masalah yang timbul maka akan ada jalan keluarnya.

Meskipun terdapat beberapa bagian yang agak berbeda dari novelnya, esensi cerita dari Negeri 5 Menara tetap dapat tersampaikan dengan baik. Penulisan skenario yang apik oleh Salman Aristo dan Rino Sarjono ditambah dengan art director dari Eros Eflin, membuat penonton terbawa dalam setting tempat dan waktu cerita. Pemilihan bahasa Minang dalam dialog Alif dan keluarganya dalam menit-menit awal dari film ini saya rasa sangat tepat. Belum lagi suasana jalan, spanduk, jenis kendaraan, bahkan keadaan Pesantren Madani membuat penonton yakin kalau mereka sedang berada di era 80an.

Para Sahibul Menara

Kelebihan lain dari film ini adalah banyaknya pelajaran moral yang dapat diambil. Misalnya, ketika Ayah Alif meyakinkan anaknya, “Jabat dulu”, seperti ketika ia bertransaksi jual beli binatang ternak gaya Minang. Hal ini menjelaskan bahwa segala sesuatu itu sebaiknya tidak langsung ditolak ketika kita tidak menyukainya, tapi ada baiknya untuk dicoba terlebih dahulu. Pelajaran moral yang paling ditonjolkan dalam film ini tentu saja  adalah “man jadda wajada”. Seperti ketika ustadz Salman memperlihatkan bahwa sekalipun pedangnya berkarat, jika sungguh-sungguh dalam menggunakannya maka akan bisa digunakan untuk memotong kayu. Sebuah dialog yang terngiang di kepala saya selepas menonton film ini: “Bukan yang tajam, tapi yang bersungguh-sungguhlah yang akan berhasil”.

Film berdurasi sekitar 2 jam yang disutradarai oleh Affandi Abdul Rahman ini juga unik ditilik dari segi pemain. Deretan pemain muda berhasil membawakan karakter masing-masing tokoh dengan baik, didukung dengan akting para bintang senior yang mengesankan tanpa terlalu mendominasi. Namun menurut saya karakter Alif sebagai pemain utama kurang begitu ditonjolkan, hampir berbagi porsi yang sama besar dengan teman-temannya yang lain.

Menonton film ini membuat kita tertawa terbahak dengan kekonyolan khas anak muda, ikut terbakar semangat dengan perjuangan mereka, ketulusan persahabatan yang tak tergantikan, sampai menangis haru melihat mimpi yang pupus ditengah jalan. Dari rating star 1-5, saya memberikan nilai 4 untuk film ini. So, bagi Anda yang belum menonton, film ini sangat patut dijadikan referensi bagi anda dan keluarga. Tentu saja jika Anda termasuk orang yang merindukan karya seni bermutu dari anak bangsa.

6 thoughts on “Kompetisi, Tak Harus Menang atau Kalah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s