Home

Masih tetang cerita dari negeri sakura. Semoga pembaca sekalian tidak menjadi bosan dibuatnya. Selain karena tanggung jawab akademis, saya ingin menuliskan ini untuk sahabat-sahabat yang selalu bertanya “mana des, episode selanjutnya..dah tak tunggu lho..”. Wah, ternyata ada juga yang membaca tulisan saya 🙂
Kali ini saya ingin berbicara tentang bencana yang melanda Jepang. Saya tahu, sudah ada beribu-ribu tulisan mengenai ini. Tapi tidak ada salahnya saya mencoba melengkapi. Tiga hari pertama saya mengikuti Short Term Study Program di Jepang, saya mendapatkan lecture dari pihak akademisi, pemerintah, dan swasta. Semuanya berbeda dalam bahasan, namun memiliki satu benang merah yang sama: bencana dan tindakan preventif serta mitigasinya. Setidaknya itu yang saya tangkap.

Mereka menamainya dengan 3.11 accident. 3 adalah bulan maret, dan 11 artinya tanggal 11 tahun 2011. Yup, karena bencana tersebut terjadi di 11 maret 2011 yang lalu. Sungguh pukulan yang sangat berat dan mengagetkan bagi Jepang, dengan segala teknologi canggihnya merekapun tidak bisa berbuat apa-apa. Kejadian ini merubah banyak tatanan Negara Jepang, terutama pada skenario energy nasional dan tatanan ekonomi.

Berawal dari mega earthquake sebesar 9.0 Mw (moment magnitude) pada 11 Maret 2011 pukul 14:46. Gempa ini berpusat di lautan pasifik sebelah timur Tohoku district (Jepang membagi daerahnya menjadi beberapa district/prefecture, mungkin kalau di Indonesia seperti sebuah provinsi), tepatnya 130 km dari pantai Sanriku. Pusat gempa biasa disebut dengan epicenter, dalam kasus ini  berada pada 38.100 lintang utara, 142.860 bujur timur, dan kedalaman 23.7 meter. Daerah ini berada di pertemuan 4 lempeng bumi (tectonic plate), yakni North American plate-Pacific Ocean plate-Phillipine Sea plate-Eurasian plate. Nah, si North American tectonic plate ini bergeser ke timur (ke arah pacific ocean plate) sejauh 50 meter. Ini menyebabkan tectonic plate yang ditabrak, dalam hal ini pacific ocean, menghentak balik (aksi-reaksi, hukum newton 3). Dan karena yang berada diatas ocean pacific plate adalah laut, maka lautan ini menggulung dan menyentak ke arah barat (Eurasian dan phillipine sea plate) sebagai gelombang tsunami. Begitulah kenapa setelah gempa berkekuatan 9.0 M ini terjadi tsunami dengan ketinggian 10 meter. Gempa ini juga mempercepat kecepatan rotasi bumi sebesar 1.6 micro second.

Korban jiwa yang tercatat per 18 Februari 2012 adalah 15,800 orang yang meninggal dan 3,300 orang yang hilang. Yang membuat saya heran adalah mereka (ilmuwan, pemerintah, maupun pihak swasta) memiliki sebuah keyakinan yang sama: mega quake dan tsunami besar seperti ini memiliki periode 1000 tahun. Artinya, 1000 tahun yang lalu telah terjadi bancana semacam ini, dan 1000 tahun yang akan dating bencana ini akan ada kembali. Dari mana mereka berkesimpulan seperti itu? Jepang adalah Negara yang sangat kuat dalam masalah pendataan dan record sesuatu. Mereka masih memiliki catatan tentang kejadian-kejadian penting ribuan tahun yang lalu, dan mereka menemukan daftar tsunami dalam catatan itu. Sebenarnya hanya itu. Mungkin merupakan local wisdom bagi mereka untuk beriman pada kejadian masa lalu. But I appreciate it! Let’s see 1000 years again, setidaknya ini bisa dijadikan warning bagi generasi mendatang.

Sebenarnya saya juga belajar mengenai ini dari segi engineer, melalui hukum-hukum fisika sederhana, menghitung kecepatannya, ketinggian tsunami di berbagai titik tinjauan, simulasi numeriknya, dan masih banyak lagi. Tapi sepertinya saya tidak akan menuliskannya, karena pasti akan sangat membosankan😀 namun bagi anda yang tertarik, bisa menghubungi saya dan akan saya copikan catatan kuliah selama di jepang, tentu yang berkaitan dengan ini.

Tentu yang lebih booming dari 3.11 bukanlah tsunami dan earthquake nya, tapi kecelakaan nuklir-nya yang disebut dengan Fukushima Daiichi accident. Nuklir memang memiliki potensi untuk digosipkan sedemikian rupa.  Dan sudah menjadi watak dari gosip, yang tidak tahu duduk perkara ikut-ikutan bicara, akhirnya informasi yang awalnya A bisa menjadi D, E, bahkan Y dan Z. Ketidakvalidan dari gossip sudah menjadi natural condition dari gossip itu sendiri. Saya bersyukur bisa bertemu dengan para ahli nuklir dari negeri sakura dan memiliki banyak waktu untuk menggosipkan nuklir bersama orang yang tahu duduk perkaranya. Mereka sangaaaaaaat objektif.

Tentang Fukushima Daiichi accident, saya akan memposting versi lengkapnya dari hasil diskusi di Jurusan Teknik Fisika UGM bersama dengan para dewa nuklir, namun secara singkat dapat dijelaskan demikian: Reaktor nuklir membutuhkan aliran pendingin yang sustainable untuk mendinginkan teras reactor (teras adalah tempat bahan bakar nuklir mengalami reaksi Fisi/pembelahan inti atom). Untuk mendinginkan, reactor tipe BWR (Boiling Water Reactor ) seperti Fukushima  menggunakan air laut yang dipompa. Nah, untuk menjalankan pompa tentu saja kita membutuhkan listrik. Karena gempa, listrik mati. Oleh karena itu digunakanlah emergency diesel generator. Sejauh ini masalah teratasi. Unfortunately, tsunami datang dan seluruh diesel generator mati kecuali 1 diesel yang terletak di unit 6. Diesel mati artinya tidak ada listrik yang dapat digunakan untuk mengalirkan air laut menggunakan pompa. selama beberapa jam tanpa suplai daya listrik bahan bakar mengalami kenaikan suhu karena tidak mendapatkan pendinginan memadai. Selain itu,  sebagai konsekuensi dari venting, maka permukaan air dalam teras menurun sehingga bagian atas bahan bakar tidak terendam air. Kondisi ini akan mempercepat kenaikan suhu bahan bakar. Pada suhu 700 ºC, kelongsong zirkon alloy mulai berubah fasa sehingga menjadi rapuh dan mudah retak. Jika suhu mencapai 1100 ºC, mulai terjadi reaksi antara zirkon dengan uap air yang menghasilkan gas hidrogen. Akumulasi gas hidrogen akan menambah kecepatan peningkatan tekanan. Untuk mencegah kerusakan lebih parah, maka gas hidrogen juga dilepaskan (venting). Venting gas hidrogen diarahkan ke gedung reaktor. Karena gas hidrogen bersuhu cukup tinggi, maka pada saat hidrogen bertemu dengan oksigen di udara akan tersulut sehingga menimbulkan ledakan. Artinya ledakan ini merupakan reaksi kimia antara hidrogen dan oksigen, bukan ledakan nuklir.

Ah, kenapa jadi panjang lebar begini, maafkan saya kawan…sungguh tidak bermaksud. Sudah terlalu panjang. Padahal apa yang ingin saya sampaikan belum tersampaikan semuanya. Insya Allah akan saya lanjutkan di #episode4 mengenai dampak-dampak dari “kajadian ini” dan tentu saja apa tindakan yang akan mereka ambil dalam kebijakan nasional di bidang energy, sumber daya, teknologi, serta ekonomi.

Semoga bisa memperluas wawasan kita semua.

3 thoughts on “#episode3: Tentang Episentrum

  1. Pingback: Riwayat Fukushima « AeroDest

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s