Home

Sebenarnya tidak ada indikator baku untuk mengatakan kapan seorang mahasiswa dikatakan berada di tingkat akhir. Apakah kata ‘akhir’ disini bermakna akhir masa studi rata-rata di kampus, atau ‘akhir’ dari apa yang ia terjemahkan sendiri. Jika mengartikan sendiri, bisa saja kan mendefinisikan masa studinya 7 tahun, maka semester 8 belumlah disebut tingkat akhir olehnya. Maka saya memilih untuk bermahdzab dua-duanya, karena apa yang saya artikan hampir sama dengan apa yang diartikan oleh kampus. Jika demikian, saya seorang gadis berumur 20 tahun yang sekarang duduk di semester 6 bisa disebut sebagai ‘mahasiswa tingkat akhir’ versi saya tersebut.

Rupa-rupanya kawan-kawan sekelas seangkatan seguru seilmu saya banyak mendefinisikan ‘tingkat akhir’ seperti yang saya definisikan itu. Barulah saya tahu beragam kegalauan dan peristiwa muncul pada orang yang menyandang predikat ini.

Apa saja peristiwa yang muncul? Simak reportase berikut ini😉

Sasaran pengamatan saya yang pertama adalah para mahasiswi. Mau kau sebut apapun itu, ia tetap wanita. Saat saya menginap di guest house suatu BUMN beberapa pekan yang lalu dan berbagi kamar dengan 3 mahasiswi yang lain, perbincangan ala kaum ibu-ibu pun sulit dihindarkan. Rupanya, para mahasiswi ini banyak membicarakan masalah PERNIKAHAN. #catat itu (1). Kebetulan dari 4 penghuni kamar tersebut hanya saya yang nggak punya kecengan, 2 yang lain bahkan berpacaran. Pembicaraan standar: memperkenalkan pacar ke orang tua, direstui, mengancang-ancang waktu untuk menikah. Woooow. Yang paling tidak mengenakkan adalah ketika ditanya “kamu udah ada ya des?”, saya harus jawab apa saudara-saudara? Kan Allah sudah menyiapkan untuk saya, HANYA SAJA sampai saat ini belum  ketemu #ngeles. Akhirnya jawaban diplomatispun muncul “haha, karena kalian sudah nemu itulah, doakan semoga kawan kalian ini rejekinya baik juga”. Yup, jodoh juga rejeki.

Target kedua adalah para mahasiswa. Tidak perlu jauh-jauh mencari sampel, teman-teman sejurusan sudah bisa mewakili populasi. Kebanyakan calon bapak-bapak ini membicarakan banyak hal. Saya lumayan kesulitan untuk mencatatnya.  Dari koleksi mobil terbaru sampai cara tinggal bersama istri (haduuuuh, belum juga…). Ternyata laki-laki sangat antusias membicarakan masalah OTOMOTIF, mereka bahkan hapal mobil keluaran mana-harga berapa-berapa cc-desain interior-mana yang akan mereka beli kalau sudah punya uang nanti. Dan ini #catat-an  saya yang kedua (2).

Selain otomotif, mereka juga membicarakan masalah PEKERJAAN. Mereka banyak berdiskusi tentang lapangan pekerjaan, saling menanyakan ingin kerja dimana, sampai gajinya berapa. Bahkan, di point ini saya menemukan titik penting. Salah satu teman sejurusan saya ada yang sangat hapal dengan standar gaji perusahaan. Hmm…Tanya saja ke dia, dari gaji PNS, tunjangan dosen, BUMN, perusahaan nasional dan multinasional, sampai oil &gas company dia tahu semuanya. Semuanya? Sepertinya demikian. Pasalnya, dalam berbagai kesempatan dia sering mengungkit hal itu: kerja di perusahaan sesuatu, kalo fresh graduate gajinya sekian, On Job training gajinya sekian, tunjangan sekian, dan sekian-sekian yang lain. Saya jadi juriga jangan-jangan dia punya keahlian di bidang mendapatkan data. Sisi positifnya adalah, jika suatu hari saya mendapatkan pekerjaan di suatu perusahaan misalnya, saya tak perlu repot-repot cari standar gajinya, tinggal sms kawan yang satu ini masalah terselesaikan. #catat itu sebagai poin (3)

Investigasi saya yang berikutnya adalah ke kontrakan mahasiswa. Dulu saya pernah tinggal di tempat  ini juga. Ternyata hasil yang saya dapatkan sama dengan poin (1). Hanya saja mereka bukanlah orang yang berpacaran, jadi omongannya lain. Tapi tetep saja, jika anda belum siap menikah tapi TIAP HARI ngomonginnya begituan, itu teramat sangat tidak efektif untuk pertumbuhan ideologi. Dulu saat saya masih berada di kontrakan juga agak geram dengan hal ini. Apa ini hanya ada di kontakan ibu-ibu? Tentu saja tidak. Dari data sekunder yang saya dapatkan, kontrakan bapak-bapak juga tidak kalah mengenaskan, bahkan lebih parah. Dari pada memperbincangkan hal itu-itu melulu, mbok ya energinya digunakan buat mikirin bangsa-negara-agama saja, akhiiiiiiiiiiiiiiiiiy… *bersin*

Inverstigasi berikutnya saya geser ke asrama tempat saja tinggal. Alhamdulillah pembicaraan ‘tingkat akhir’ nya agak lebih bermutu. Kawan-kawan seatap saya ini banyak membicarakan masalah POLITIK, GIZI dan PARENTING. Nah lho…? Iya, betuuul.. kadang arisan ini juga berlangsung hingga larut malam, dan saya termasuk penggiat didalamnya😀 hanya saja saya jadi salah tingkah mengetahui (dan diketahui) masih sangat tidak memperhatikan tentang gizi dan keseimbangannya. Kalau soal parenting, saya belajar banyak dari mereka. Terimakasih saudari-saudariku.. Ah, kalian memang “sesuatu”. Kali ini saya tidak men #catat nya.

Beralih tempat… saya mencoba mengorek informasi dari mahasiswa lain dijurusan. Ternyata banyak dari mereka yang sedang membicarakan SKRIPSI atau TUGAS AKHIR. Kalau yang ini saya #catat sebagai poin (4). Kebanyakan dari mereka terlihat sangat sibuk sendiri, semacam pengangguran dengan banyak acara lah. Ya pantas saja karena kita tidak tahu apa sebenarnya yang mereka kerjakan.

Mengkritik dan menilai orang sungguh mudah kawan…, dan pekerjaan termudah adalah menjadi kritikus (seperti yang dikatakan dalam film Rattatouile). Jika setelah membaca tulisan ini anda bertanya apa pemikiran dan rencana saya sebagai mahasiswa ‘tingkat akhir’, saya pun akan kesulitan menjawabnya. Saya punya angan-angan untuk bekerja sementara waktu, kemudian menikah, melanjutkan kuliah di MIT (that’s my dream since a long time ago!), mendidik para tentara, membuka banyak usaha, kaya raya, dan masuk surga. Ah..indahnya dunia,😀 Silahkan tertawa dan menganggap ini hal yang bodoh, tidak masalah bagi saya.  #lalalalala…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s