Home

Ruangan itu tidak terlalu luas, hanya sekitar 3×3 meter. Didalamnya terdapat sebuah meja panjang, AC, 2 buah kursi yang ditata saling berhadapan, seorang lelaki berumur 25 tahun-an, dan saya. Hari ini hari yang penting, hari yang berbeda dari yang lain. Dan karena alasan itulah saya berada selama hampir 1 jam dalam ruangan tersebut.

Sebuah test tahap akhir setelah beragam ujian yang mendebarkan: interview.

Bukan ingin bercerita apa isi test tersebut, karena kita semua pasti sudah bisa menebaknya. Hanya ingin menumpahkan beberapa butir kekecewaan saya pada diri. Kecewa karena tidak maksimal dalam berbuat…

Sang pewawancara sudah sangat ramah dan baik: membukakkan pintu, menarikkan kursi, dan membuat suasana senyaman mungkin dengan sapaan-sapaan akrab. Saya yang kurang optimal. Sungguh saya yang kurang optimal. Apakah saya tidak dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan? Tentu saja saya menjawabnya, immediately. Meskipun dengan kemampuan bahasa saya yang masih terseok-seok. Saat masih berada di dalam ruangan, saya masih berpikir “everything going good”

Kekecewaan itu justru hadir setelah saya keluar dari ruangan, melangkah keluar dari gedung itu, menuju parkiran, dan duduk termangu diatas motor kesayangan. Berbagai frase muncul dikepala saat itu “harusnya saya menjawab seperti ini, bukan seperti itu”, “kenapa saya menjawab pertanyaan tersebut dengan jawaban seperti itu? Padahal yang ini lebih baik”…

Tentu saja ini untuk urusan dunia. Jika saya lolos test tersebut, saya akan mendapatkan beberapa keuntungan yang sifatnya sangat duniawi. Tentu saja. Tentu saja kawan.

Tingkat entropi dalam tubuh sayapun meningkat, pikiran semakin kacau dengan berbagai macam penyesalan setelah saya pikir-pikir ulang jawaban2 saya tersebut. Demi kekacauan tersebut, sholatpun ditegakkan. Saya baru menyadari satu hal: adalah sangat wajar jika seseorang sangat kecewa dengan apa yang telah dia perbuat, bukan yang dia peroleh. Perolehan itu hanya masalah rejeki saja, dan sampai kapanpun jetah rejeki kita tak akan tertukar dengan yang lain. Penyesalan dan kekecewaan itu muncul justru karena kita melakukan sesuatu dengan grade 8 padahal kita bisa melakukannya dengan grade 9 atau bahkan 10. Penyesalan itu adalah karena sebenarnya kita bisa lebih optimal namun yang kita lakukan justru dibawah standar kemampuan keoptimalan diri kita tersebut.

Saya sekecewa itu, padahal itu hanya untuk urusan dunia. Saya menjadi malu, sangat malu pada diri sendiri, tentu saja bukan karena test interview tadi, tapi karena saya baru menyadari sebuah arti penting dalam hidup: JIKA KAMU KUAT BERLARI 1000 M, KENAPA PUAS HANYA DENGAN 900 M?! Mungkin kekecewaan semacam itu juga yang akan dirasakan di hari hisab kelak, ketika kita menyadari bahwa sebenarnya kita mampu untuk beramal lebih, berbuat lebih di masa hidup dan kuat kita, namun ego diri membatasi kita untuk puas hanya sebesar apa yang ingin kita lakukan, bukan apa yang bisa kita lakukan.

Sekali lagi, rejeki tidak akan tertukar. Doa telah dipanjatkan dan usaha telah dilakukan. Justru dengan kesalahan ini saya belajar, belajar tentang arti KERJA OPTIMAL yang sesungguhnya, lebih dari membaca buku manapun atau mengikuti seminar dimanapun. Keberkahan itulah yang dicari. Ya Allah, semoga Engkau memberkahi langkah ini dan menjadikannya sebagai salah satu potongan episode hidupku yang bermanfaat untuk ummat.

Yogyakarta, 30 Mei 2012

*menanti pengumuman sd akhir juni*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s