Home

Salju Gurun [Dee, 1998]

Di hamparan gurun yang seragam, jangan lagi menjadi butiran pasir. Sekalipun nyaman engkau ditengah impitan sesamamu, tak akan ada yang tahu jika kau melayang hilang.

Dilingkungan gurun yang serbaserupa, untuk apa lagi menjadi kaktus. Sekalipun hijau warnamu, engkau tersebar di mana-mana. Tak ada yang menangis rindu jika kau mati layu.

Di lanskap gurun yang mahaluas, lebih baik tidak menjadi oase. Sekalipun rasanya kau sendiri, burung yang tinggi akan melihat kembaranmu disana sini.

Di tengah gurun yang tertebak, jadilah salju yang abadi. Embun pagi tak akan kalahkan dinginmu, angina malam akan menggigil ketika melewatimu, oase akan jengah, dan kaktus terperangah. Semua butir pasir akan tahu jika kau pergi, atau sekedar bergerak dua inci.

Dan setiap senti gurun akan terinspirasi karena kau berani beku dalam neraka, kau berani putih meski sendiri, karena kau… berbeda.

 

Beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan sms dari seorang kawan. Sms biasa saja, semacam motivasi. Kami semua memang biasa saling berkirim sms. Namun setelah dibaca, saya berubah pikiran-sms itu bukan sms biasa, saya jatuh cinta dengan sastra yang ia gunakan. Ingin rasanya me-reply sms tersebut “kau dapet dari mana?”. Namun  setelah dipikir-pikir lagi, jika itu memang tulisannya, tentulah dia akan tersinggung dan mengatakan “lo gak percaya ini tulisan gue des?”. Akhirnya, niat me-reply pun saya urungkan…

Akhirnya 5 Juni 2012 saya mendapatkan prosa tersebut, yang sama persis dengan sms dari kawan saya tadi, bertengger apik di halaman 48-49 buku kumpulan cerita dan sastra 1 dekade nya Dee, judul yang terpampang di covernya adalah Filosofi Kopi. Sama sekali tak berniat mencarinya, hanya kebetulan saja hari itu buku beruntung yang kubaca adalah Filosofo Kopi.

hmm..bagi saya prosa tersebut “sesuatu banget”. Takperlulah saya mengungkapkannya disini, karena saya punya interpretasi, anda pun juga. betul begitu kan?

Banyak cerita dan prosa yang manarik dan tentu saja, membuat saya sedikit tersenyum, bersemangat, menunduk sedih, heran, atau bahkan tersipu saat membacanya. Saya suka karya sastra, walaupun sampai detik ini hanya menjadi penikmat saja.

terimakasih sahabat..:)

2 thoughts on “Ternyata…Salju Gurun

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s