Home

Kosa kata ini menjadi populer di kepala saya sejak beberapa waktu yang lalu. Tepatnya itu bermula ketika berbincang dengan temen sekamar (roomates/rm) di asrama, menjelang tidur… dan menjadi semakin kuat dengan beberapa kejadian yang saya alami kemudian.

[sekilas mengenai perbincangan di kamar kala itu]

aku         : mbak, mbak enak ya…
rm          : enak apa des?
aku         : ya enak aja. aku liat mbak tuh akademik oke, amanah beres, selalu bahagia lagi.. kayaknya nggak ada masalah gitu.. padahal mbak luar biasa sibuk.
rm          : enak apanya des?!! Justru aku liat kamu yang begitu. Selalu semangat, urusan semua beres, dan penuh visi.
aku         : nggak lah mbak. Aku apaan.. ada masalah dikit collapse, semangat sering luntur, rasanya nggak ada yang maksimal
rm          : lho, justru aku yang sering merasa begitu. Aku sering iri liat kamu lho, dengan semua yg kamu lakukan
aku         : justru aku yang sering iri liat embak..
rm          : hmm… itu namanya sawang-sinawang des…

Yes, sawang-sinawang! Sebuah kosakata yang berasal dari bahasa jawa. Secara harfiah berarti “pandang-memandang”. Jika diartikan secara maknawi, sawang-sinawang berarti sebuah keadaan dimana seseorang melihat lebih/kagum dengan apa yang ada pada diri orang lain, yang disaat yang bersamaan orang yang dipandang tersebut juga melihat dengan kekeguman juga kearah dirinya. Hmm..mungkin kata sawang-sinawang ini memiliki hubungan kekerabatan yang agak dekat dengan ungkapan “rumput tetangga terlihat lebih hijau”.

Keadaan ini sering terjadi di semua lini kehidupan, dan saya rasa itu sah-sah saja. Selama kita bisa menempatkannya dengan proporsional, baik, dan benar. Saya pribadi menjadikan hal tersebut sebagai pemicu untuk berbuat lebih dan lebih. Pemicu untuk memperbaiki diri, dan berlomba-lomba dalam kebaikan (fastabiqul khoirot). Seperti dalam kasus saya dan teman sekamar tadi. Setiap kali saya merasa malas (males ngaji, males hafalan, males belajar, males baca buku, males nyuci, dan males-males yang lain), kemudian saya melihat/teringat pada teman saya yang penuh dengan semangat tadi, maka diri menjadi malu. Sangat malu. Bukan malu pada siapa-siapa, toh tidak ada siapapun yang tahu. Ya malu pada diri sendiri: kenapa saya semalas ini? Padahal teman saya tersebut sangat bersemangat dalam melakukan kebaikan. Bagi saya, ini salah satu arena untuk menasihati diri sendiri.

Mungkin begitu juga yang beliau lakukan ketika sedang agak down..tapi pastilah saya yang lebih sering terbangkitkan semangatnya karena beliau, bukan sebaliknya. Mungkin teman memang diciptakan untuk saling melengkapi, dan saling menasihati dalam kebaikan dan taqwa.. meski nasihat itu tak harus berupa kata-kata. Hanya dengan melihat saja, itupun sebuah nasihat tanpa suara.

Beda ceritanya jika sawang-sinawang ditafsirkan untuk hal-hal yang bersifat materialistis/duniawi. Tak akan ada habisnya, tak akan bisa bersyukur. Yang terjadi bukannya percepatan dan peningkatan kualitas diri, namun justru saling iri dan dengki dengan limpahan nikmat yang dianugrahkan pada orang lain. Untuk hal yang satu ini, tak perlu lah saya ceritakan. Hehehe😀

Lain teman sekamar, lain pula teman kampus. Dengan bangga ingin saya ceritakan bahwa prosesi sawang sinawang tidak hanya berlaku untuk kehidupan asrama, namun juga kehidupan diluar sana… check this out!

Jadi ceritanya waktu itu saya akan mengikuti suatu tes FGD yang diadakan oleh multinational company. Ketika datang ke tempat yang ditentukan, saya agak kaget pasalnya hampir semua yang disitu adalah laki-laki dengan bacu necis-parfum wangi-rambut klimis seolah seperti para eksekutip muda betulan. Bahkan saya tidak bisa membedakan mana yang mau nge-tes dan mana yang mau di-tes. Setelah agak lama menunggu sembari berkenalan & berbincang dengan salah satu peserta yang lain, saya agak kaget dengan kedatangan seseorang. Bukan orang yang asing karena kebetulan kami pernah berada dalam satu tim kerja yang sama. Dan yang perlu diketahui, bagi saya beliau orang yang pantas diperhitungkan (emang matematika?? hehe). Dari segi pemikiran? Oke. Public speaking? Handal. Logika? jangan ditanya deh.. otomatis lah, hati saya mencelos, nyali ciut, apalagi setelah mengetahui bahwa beliau satu tim FGD dengan saya. Dalam hati saya teriak-teriak “kalo lawannya kayak si X ini, berarti persaingan berat banget. Sangat berat des!”.

Singkat cerita tespun berakhir. I’ve did my best, dan keluar ruangan dengan santainya. Ketika saya duduk-duduk di kursi gedung tersebut, teman kampus yang membuat nyali saya ciut tadi muncul, dan duduk di kursi sebrang saya duduk. Kamipun berbincang tentang jalannya diskusi saat FGD tadi. Ditengah perbincangan tersebut beliau nyeletuk :

X             : tadi saya mikir gini lho des, ‘wah, berat nih.. saingannya ngeri-ngeri’
aku         : so do I. hahaha
X             : ya kamu itu salah satunya, waktu liat ada kamu nya. Saingannya berat, ada desti juga.
aku         : wah, justru saya yang hampir merasa kehilangan harapan gara-gara ada kamu juga.
X             : iya to des? Wah…
aku         : iya to…itu namanya sawang-sinawang. *berkata dengan penuh bangga
X             : eh??

Dan kamipun melanjutkan pembicaraan tanpa mengungkit-ungkit kosa kata baru tersebut.

Yup.. tak perlu khawatir, toh ini hanya sawang-sinawang, kawan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s