Home

Pernah baca novel Ayat-Ayat Cinta karya penulis kawakan Ustad Habibburrahman El Shirazi? Saya bilang novel lho yaa, bukan film. Betul, novel yang menggugah itu lho… bukan film yang menurut saya (maaf) tidak merepresentasikan novelnya, bahkan dari segi ghiroh-nya sekalipun.

Jadi, kembali ke novel tadi. Pernah baca kan? Sip. Bagi yang pernah baca, lanjutin baca tulisan ini. Bagi yang belum pernah baca, saya sangat menyarankan anda untuk membacanya, teramat sangat menggugah hati. Lalu, ada apa dengan novel tersebut?

Well, kita mulai. Bagi yang pernah baca, tentu tahu kan dengan si pemeran utama dalam novel tersebut. Namanya FAHRI. Seorang mahasiswa Indonesia yang belajar di Al Azhar University, Mesir. Novel yang sukses besar dan menjadi best seller book berkali-kali itu mendapat ribuan pujian. Wajar! Namun tidak sedikit juga yang memberikan kritikan. Dan menurut sang penulis, dari sekian kritikan yang masuk, yang paling menggelitik adalah komentar berikut

“satu-satunya kekurangan dalam buku ini adalah pemeran utamanya tidak memiliki kekurangan, alias manusia yang perfect: sempurna. Di dunia ini, tidak ada manusia yang seperti itu..”

Memang, Habibburrahman menggambarkan sosok Fahri sebagai manusia yang luar biasa. Kuliahnya bernilai luar biasa, berhasil menjadi salah satu murid kesayangan salah seorang syaikh, nice looking atau bisa dibilang ganteng, baik hati, perhatian dengan sesama, hafal Al Qur’an, dipercaya menjadi pembesar di organisasi kemahasiswaan, dan dekat dengan semua kalangan. Perfect! Apa lagi coba? Semua orang sayang padanya.

Menanggapi kritikan tersebut, penulisnya hanya menjawab kalem:

“memang tidak ada di Indonesia (atau mungkin sedikit sehingga tak banyak yang tahu). Namun di mesir sana, teramat sangat banyak pemuda yang seperti sosok Fahri : ibadah-akademik-sosial-fisik semuanya bagus.”

Nah…nah..nah… Mesir.

Mungkin benar apa yang dikatakan Ustad Habbiburrahman. Buktinya, presiden terpilih Mesir, Doktor Mursi, adalah seorang engineer (material engineering) lulusan universitas ternama di Amerika sana, juga seorang akademisi, juga seorang pembesar pergerakan Islam terbesar di dunia: Al Ikhwan Al Muslimun, juga seorang hafidz (hafal 30 juz Al Qur’an, bukan juz 30 aja), juga seorang suami dan ayah yang anak2 dan istrinya hafidz…dan..juga seorang presiden. Kehidupan dunia dan kehidupan agama memang bukan sesuatu yang harus dipisah-pisahkan. Sama sekali bukan..prinsip sekuleritas dalam beragama memang sebuah prinsip yang pincang. Sangat pincang. Karena sedari awal, Islam memang mengajarkan kita untuk berisalam secara kaffah (sempurna) dan syumuliah (melingkupi semua aspek kehidupan). Bukan sekedar ibadah ubudiyah saja.. bukan..

Sosok Fahri… sosok Doktor Mursi…

Jika ditanya kapan Indonesia akan maju? Saya akan menjawab ketika para pemimpinnya, akademisinya, praktisinya, tukang parkirnya, bangkirnya, pedagangnya, investrornya, pejabatnya, militernya, pilotnya, desainernya, guru-gurunya, penjahitnya, mekaniknya, semua elemennya kembali pada nilai-nilai yang diajarkan illahi. Nilai-nilai integritas yang ditanamkan oleh Islam. Ya, nilai itu. Menjadikan Islam sebagai jalan hidup.. bukan Islam yang parsial.

Mari jadikan kisah ini sebagai renungan. Renungan kita bersama, untuk anda dan juga (terlebih lagi) untuk saya. Sudahkan menjalankan Islam secara sempurna? Dari bangun tidur hingga tidur lagi? Dari berbicara sampai melirik? Dari mencucui baju sampai menulis jurnal?

Ditulis di dinginnya Jogja pagi ini
H-15 Ramadhan

2 thoughts on “Tidak Parsial

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s