Home

“Hidup dan nasib bisa tampak berantakan, misterius, fantastis, dan sporadis, namun setiap elemannya adalah subsistem keteraturan dari sebuah desain holistik yang sempurna. Menerima kehidupan berarti menerima kenyataan bahwa  tak ada hal sekecil apapun yang terjadi karena kebetulan. Ini fakta penciptaan yang tak terbantahkan.”
(Andrea Hirata dalam Edensor)

Bagi saya takdir marupakan sesuatu yang paling misterius yang pernah ada. Mungkin anda juga akan berpikir demikian. Karenanya, tak ada seorangpun yang benar-benar mengetahui dengan pasti tentang takdir itu sendiri. Baik takdir tentang dirinya, terlebih lagi mengenai orang lain..

Dulu, ketika saya masih duduk di bangku sekolah dasar, kalau tidak salah waktu itu kelas 3 SD, saya pernah agak frustasi memikirkan sesuatu. Tentu frustasi kala itu berbeda dengan “tingkatan” frustasi saya sekarang, hehe.. Apa yang membuat saya frustasi? Ketika itu saya lagi seneng2nya main boneka Barbie.. dan Barbie milik saya (waktu itu harganya 80 ribuan, kala itu,  lumayan bagus) rambutnya pirang, kakinya kurus bagus, pinggangnya ramping, matanya indah, sempurna… ! Jika ia manusia betulan, ia adalah tipe wanita yang membuat wanita lain iri setengah mati dan membuat laki-laki yang melihatnya jatuh hati. Kala itu, saya jadi kepikiran satu hal: kenapa Barbie ini cantik sekali sedangkan saya dan orang2 disekitar saya tidak seperti dia? Bukan dalam hal iri dan tidak mensyukuri nikmat (toh saya lebih cool, hahaha ), tapi lebih pada “kenapa orang di dunia ini berbeda-beda?”
Pertanyaan sayapun berlanjut, “kenapa saya ada? Dan saya berbeda dengan orang lain? Dan semua orang didunia berbeda?”
Jikalau karena Tuhan menciptakan demikian banyak mahluk hidup, ada tanaman, hewan, tanah, bintang, dan sebagainya… “kenapa saya kebagian diciptakan sebagai manusia? Kenapa bukan jadi tanaman saja sehingga tak perlu repot2 sekolah, sholat, dan ngaji tiap sore  yang ustadnya luar biasa galak?”
Percaya atau tidak, saat itu adalah saat2 berat bagi saya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan2 tadi. Orang tua tak memberikan jawaban yang memuaskan, begitupun guru ngaji saya atau guru disekolah. Sampai akhirnya rasa penasaran itu saya kubur dalam-dalam. Lupa ditelan masa.

Mungkin itulah yang disebut kehendak Tuhan. Suka-suka Allah dong, menciptakan saya menjadi manusia atau tumbuhan. Suka-suka Allah, kenapa saya musti repot? Juga hak Dia untuk membuat saya dilahirkan di desa terpencil yang ada di pelosok kota kecil nan jauh dari keramaian, dari orang tua yang bukan siapa-siapa..bukan presiden, bukan mentri..(namun sangat menyayangi saya tentunya^^) Suka-suka Allah, saya ditempatkan di Indonesia, bukan tetangganya Barack Obama di Amerika sana. Dan menurut pemahaman saya sekarang, itulah takdir yang tidak bisa dirubah atau dipilih. Tidak perlu kita pikirkan. Semuanya sudah tertulis di kitab megaserver yang laur biasa komplit: lauhul mahfudz.

Kalau begitu, jika semuanya sudah diatur oleh Tuhan, maka kita nggak perlu repot-repot usaha dong.. Toh semuaaaaanya sudah ditulis, sudah ada takdirnya: rejeki, jodoh, dan maut. Berarti Allah sudah menentukan berapa duit yang masuk kantong kita perharinya, siapa saja orang yang akan kita temui dan menjadi jodoh kita, kapan kita akan mati, berapa nilai ujian kalkulus kita, kita mau kesandung batu, atau jatuh di jalan raya… kan begitu? Ngapain susah-susah belajar atau repot-repot kerja banting tulang sampai banting setir (lho?) atau memperbaiki diri supaya mendapat jodoh yang baik? Toh hasilnya udah dituliskan, mau mati-matian kita usaha kalo takdirnya nggak sukses ya gak bias diapa-apain!!

Begitu?

Yakin begitu?

Menurut saya sih tidak.

Inget cerita salah satu gubernur di masa pemerintahan khalifah umar bin khattab? Beliau akan mengadakan perjalanan ke salah satu negri yang masuk wilayah Islam. Dan ternyata diketahui  saat itu didaerah tersebut sedang diserang wabah penyakit yang luar biasa, sampai-sampai tidak ada orang yang boleh masuk atau keluar dari wilayah tersebut, karena saking menularnya dan dipastikan jika memasuki daerah tersebut maka akan terjangkit. Penyakit itu sungguh mematikan. Kemudian gubernur diingatkan untuk tidak jadi saja mengadakan perjalanan ke daerah tersebut karena wabah yang sangat menular. Ya istilahnya disarankan untuk tidak pergi kesana. Kemudian gubernur itu berusaha menolak usulan itukarena beliau beranggapan bahwa jika beliau batal pergi berarti lari dari takdir Allah. Lalu apa yang dikatakan oleh khalifah Umar? “iya, benar kamu lari dari takdir Allah. Kamu lari dari sebuah takdir Allah untuk menjemput takdir Allah yang lain, yang lebih baik.”

That’s it!

Jadi, tidak benar jika kita pasrah saja pada keadaan dan nrimo opo anane tanpa usaha atau semangat perbaikan. Karena yang menarik dari takdir itu adalah ia rahasia Allah. Kita nggak tahu apa-apa. Kita nggak bener-bener tahu takdir kita apa. Iya kan? Jadi tugas kita sebagai manusia, sebagai hamba, adalah berusaha menjemput takdir terbaik kita. Kan kita tidak tahu, kalau sebenarnya Allah takdirkan pendapatan 1 Milyar per bulan kepada kita, namun karena kita yang underestimate terhadap kemampuan kita, tak ada usaha, ya takdir 1 M perbulan itutidak jadi dijemput.

Yang penting adalah usaha usaha dan usaha. Kerja, kerja, dan kerja yang keras, yang maksimal. Karena kita nggak tahu takdir kita apa. Maka ya kita ikhtiar untuk mendapatkan takdir terbaik itu. Lari dari takdir Allah? Iya, untuk menjemput takdir Allah yang lain yang lebih baik!

Dan..jangan lupa bahwa kita adalah manusia yang lemah dan tanpa daya. Maka daya itulah yang harus diusahakan dari Sang Pemilik Daya. Selain usaha maksimal, berdoa pada Allah untuk memberikan yang terbaik: entah itu sesuai dengan keinginan kita atau tidak, karena Allahlah Yang Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Prayer is not asking. It is a longing of the soul. It is daily admission of one’s weakness. It is better in prayer to have a heart without words than words without a heart (Mahatma Gandhi). Setelah usaha dilakukan dan doa dipanjatkan, tinggal tawakkal meyerahkan semuanya pada Allah.

Well, selamat menjemput takdir terbaik🙂

 

Asma Amanina, 11 October 2012

Ditulis setelah teriak-teriak dikelas Tahsin
dan sekarang teriak2 nyanyi Marry U dan Wonder Boy😀

5 thoughts on “Tentang Takdir

    • hahaha..serius dek..dulu aku sampe uring2ngan nanya sama ibuku… “kalo Allah Maha Mencipta segalanya, kenapa aku diciptakan sbg manusia? kayaknya lebih enak jadi bunga, nggak harus sekolah, nggak harus TPA tiap sore. ”
      *dulu ustad TPA ku ada yg guaaalak banget soalnya :p

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s