Home

Emang ente pikir dengan berjilbab panjang begitu menjamin ente sholihah? Masuk surga gitu? Hah?!!!
(dikatakan oleh mahasiswa FISIPOL UGM 2008)

woman-muslim-engineer-hijaber

Dulu, ketika saya masih di BEM, ada sebuah agenda yang dibuat oleh ketua BEM saat itu (Mas Fallery, Teknik Sipil UGM 2008) yaitu Deep Introduction PH BEM. Semacam perkenalan mendalam dari kami masing-masing, durasinya per orang saja sampai lebih dari 30 menit-an lah. Semua diceritakan, dari hal umum, kesukaan, keluarga, cita-cita, masa lalu, harapan hidup, visi, sampai hal-hal pribadi. Audience nya adalah seluruh PH (Pengurus Harian) BEM yang saat itu berjumlah 15 orang dan setiap orang wajib mempresentasikan tentang dirinya seperti yang saya ceritakan tadi dan juga berhak bertanya APAPUN terhadap orang yang sedang mempresentasikan dirinya. Yang ditanya, hukumnya wajib menjawab pertanyaan apapun ditujukan padanya. Wah, kompleks kan?

Diantara pertanyaan-pertanyaan yang ditujukan pada saya, beberapa saya jawab sejujurnya. Namun beberapa saya jawab secara diplomatis (seperti misalnya: pernah suka sama siapa?), hehe.. salah satu pertanyaan yang paling membuat saya berpikir dalam menjawabnya adalah pertanyaan dari teman kami yang bernama Ridwan Wicaksono (Teknik Elektro UGM 2009, saat itu adl KaDept Sosmas). Pertanyaan beliau adalah : “kenapa kamu menggunakan jilbab seperti itu? Maksudku, sepanjang dan selebar itu?”. Dan ternyata, yang penasaran dengan hal itu bukan hanya Ridwan…banyak temen2 saya yang sama penasarannya. Mungkin, anda juga? Okelah…ini ulasan saya mengenai style/gaya dalam berjilbab.

Well, itulah mukadimah posting saya kali ini , kkkkkk…😀

Jilbab…hmm…saya pernah memposting alasan kenapa saya memakai jilbab disini. Ringkasnya, selain karena benefit ini-itu dari mengenakan jilbab, alasan saya menggunakan jilbab adalah karena Allah meminta demikian pada para wanita beriman, dan istri2 orang beriman. Sedangkan masalah keterjagaan diri dan hati, perlindungan, dsb hanyalah efek saja.. sudah tentu apa yang Allah perintahkan adalah untuk kebaikan hamba-Nya.

Tentang jilbab, ada banyak versi dalam style nya. Perbedaan itu biasanya dipengaruhi oleh tempat/kultur di suatu tempat (missal jilbab di arab sana berbeda dengan di Indonesia ini), pemahaman/keyakinan masing2 orang, dan tujuan seseorang mengenakan jilbab. Bagi saya, hal terpenting dari kesemuanya itu tadi adalah tujuan. Jika tujuannya hanya karena ingin ikut-ikutan trend, jilbab lilit-lilit di leher dengan tangan congklang/tak benar2 menutup aurat pun tak masalah, versi orang tersebut. Bukan versi saya. boleh nggak seperti itu? Ya monggo saja, itu hak dan kebebasan yang bersangkutan…

Jika tujuannya karena Allah, maka batasannya adalah syari’at. Apa yang Allah syari’atkan, itulah yang dilakukan. (Nggak usah ngeri denger kata ‘syariat’ lho yaaa…) Dan itulah jawaban saya terhadap pertanyaan Ridwan kala itu. Ya karena Allah perintahkan saya untuk menutup aurat, dan aurat saya adalah seluruh tubuh kecuali wajah dan kedua telapak tangan, maka saya menutup seluruh tubuh saya kecuali 2 area tersebut. Mengenai panjangnya/lebarnya jilbab, dan kenapa mengenakan rok terus menerus…? Well, itu soal kenyamanan😉

Karena saya nyaman berpakaian demikian. Kalo secara syariat, yang diperintahkan adalah menjulurkan jilbab sampai menutup dada. Iyalaaaah, secara wanita gitu..ada bagian2 tubuh tertentu yang risih apabila tidak disimpan dengn baik dibalik jilbab. Kalau rok, kenapa saya sll memakai rok, ya lagi-lagi ini soal kenyamanan. Karena saya nggak suka seenak2 orang ngeliat bentuk kaki saya. Maaf saja, hanya untuk kalangan terbatas yang halal bagi saya dong..

Itu… bagi saya batasannya adalah syariat, apa yang Allah syariatkan, itulah yang dilakukan. Lalu bagaimana dengan trend jilbab jaman sekarang? Menurut saya sih nggak ada masalah, baik-baik saja mengikuti trend jikalau tetap berpijak pada syariat. Mau jilbab kaos/kain, model tsunami, syahrini, apapun, niru artis manapun gak ada soal jika tetap berpijak pada syariat. Apa syariatnya? Menutup seluruh tubuh kecuali 2 telapan tangan dan wajah, jilbab dijulurkan menutupi dada (terutama bagian ‘itu’ ketutup), pakaian yg dikenakan tidak ketat (sama aja boong kalo pake baju ketat, kayak gak pake baju kan?), tidak membentuk, mengenakan kaos kaki (karena kaki juga aurat lhoooo saudara-saudara). Mau lo pake warna apa, pattern yg kayak apa, cardigan model apa, sweater yang kayak gimana, kemeja yang kayak apa, model jilbab yang kayak apa…gak ada soal SELAMA MASIH DALAM BATASAN-BATASAN SYARIAT TERSEBUT.

Jadi, sesuai syariat itu nggak harus nggak modis, saudariku… bisa kok, sesuai syariat, dan sesuai trend jaman.. bisa…sangat bisa… jadi, nggak ada alasan orang nggak berhijab dengan baik dan benar karena alasan: “sesuai syariat=kolot+nggak modis”

Sekarang yang jadi masalah justru dari beberapa kalangan yang mengecam orang2 yang belum bisa berjilbab dengan baik dan benar. Mengecam, bukan mengingatkan lho yaaa..beda. Dan lebih parahnya, menurut saya, menjustifikasi tingkatan keimanan/kesholihan seseorang dari panjangnya jilbab. Itu juga salaaaah. Saudaraku…jangankan dari panjangnya jilbab yang digunakan, dari segi manapun kita tak bisa menjustifikasi tingkatan keimanan seseorang. Si itu pasti masuk surga, si anu masuk neraka. Hah? Becanda aja…! Yang namanya surga adalah rahmat dari Allah yang diberikannya pada orang-orang beriman, yang Ia kehendaki… siapa yang tahu keimanan seseorang jika ianya tinggal didalam hati?? Yang menjadi kewajiban kita hanyalah berusaha menjalankan perintah2Nya, termasuk didalamnya menutup aurat dengan baik dan benar…

Dan weekend lalu, seseorang mengatakan kalimat yang saya kutipkan diawal tulisan ini. Saat beliau sedang ‘marah’ karena sesuatu. Lalu saya tersinggung? Tidak. Sama sekali tidak. Itu adalah peringatan, bahwa tak ada yang bisa menjamin keimanan seseorang, bahkan dari segi jilbabnya sekalipun… Bukan berarti ini pembenaran bagi yang tidak berjilbab sesuai syariat lho yaa… keimanan tak ada yang tahu..hanya kita sebagai hamba wajib berusaha memenuhi perintahNya. Itu saja. Apa susahnya…?

Jika mengikuti trend dan mode saja orang sampai menjual segala daya dan upaya, kenapa mengikuti syariat Allah yang mudah (dan tak bertentangan dengan kehidupan modern bahkan) terasa sangat sulit?

*saya terbuka untuk mendiskusikan masalah ini. Tentunya dengan logika yang baik dan benar, bukan emosi🙂

Asma Amanina, 18 Oktober 2012

Ditulis setelah memanjat pohon manga😛

16 thoughts on “Hijaber’s Styles

  1. desti….itu siapa yang moto ya?….*_* …..harus mengingatkan..bukan mengecam..like this des…..wah lama di asma ada peningkatan…udah canggih manjat pohon….hehe…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s