Home

Seorang anak 3 tahun, menangis saja masih sering, namun tahsin-nya sudah sampai jilid 5. Hafalannya hampir 1 juz 30 (juz ‘amma) ia lafadzkan dengan baik pula. Tentu banyak cerita semacam ini yang sudah kita dengar. Tapi bagiku ini agak lain, karena anak itu hidup se lingkungan denganku. Rumahnya sangat dekat dengan tempat aku biasa belajar dan tidur..

Sekali waktu dia pernah bilang “ammah, aku lupa surat ini. Mungkin karena aku kebanyakan main game”. Ah, anak sekecil itu. Kau menohokku, sangat. Ammah-mu ini, yang saldo hafalannya belum seberapa, juga sedang berjuang melawan lupa, sakit mengingati hafalan yang terbang entah kemana. Mungkin karena banyaknya maksiat dan dosa. Dan kau, sekecil itu, siapa yang mengajarimu azas itu?

Aku tak bisa bayangkan dunia yang berisi orang-orang yang mengagungkan ilmu. Bukan ilmu sekedar ilmu, tapi ilmu yang diamalkan. Bukan ilmu yang mengisi relung-relung kajian dalam format klasik. Bukan itu. Tapi ilmu yang hidup. Apabila hadits, ia adalah hadits yang diterapkan. Apabila kimia, ia bukan hanya coretan-coretan teori reaksi, tapi benar-benar sesuatu yang mereaksikan kehidupan, mengubah semesta dengan hukum-hukumnya. Oo…dan hukum, bukan lagi hukum yang dijadikan debat kusir para ahli hukum yang cerdas itu, tapi hukum yang membela keadilan sesamanya, untuk kemakmuran bangsanya. Negri seperti itu,mungkin ada di dongeng saja.

Lagi… anak sekecil itu, sudah memulai menghafalkan Al Qur’an. Sedang anak-anak lain seusianya masih saja rewel berebut mainan dengan tetangganya. Mahasiswa masih saja sibuk memikirkan “bagaimana caranya aku dapat nilai A. mau mencontek siapa. Atau se-kelompok dengan siapa supaya dapatkan ide yang bagus”, tidak sedikit yang seperti itu. Aku ini, bukanlah mahasiswa cerdas nan pandai seperti di film 21 atau National Treasure. Aku ini, menyimpulkan kenapa rekayasa material yang kugarap sepenuhparoh hati berlaku demikian dan demikian, masih saja sangat lamban. Apa yang kupelajari selama hampir 4 tahun di UGM ini? Apa? Apa, haa?!!

Semakin lama aku semakin menyangsikan mahasiswa yang mengagungkan ilmu (dan ingin menerapkannya) sebagaimana niatan awal dulu ia bersekolah dan disekolahkan. Apa masih ada? Apa aku termasuk di dalamnya? Atau aku ini hanya masuk golongan orang yang sibuk dengan urusannya sendiri yang ia rasai urusan ummat? Rapat ini dan itu, kerja sini kerja situ, tapi lupa akan hakikatnya kenapa ia rela tinggalkan rumah dan keluarga yang dicintai selama ini, mengabdi disini, untuk apa?

Tidak salah kita masuk dalam hal ini dan itu, urusan ini dan itu. Tidak salah. Semua itu sungguh benar. Itu salah satu bentuk kontribusi kita terhadap bangsa seperti yang dikatakan kakak-kakak kita saat ospek dulu. Itu benar. Hanya, jangan sampai kita lupakan bahwa kita disini adalah dalam rangka menjadi orang yang berilmu. Itu. Itu yang harus kita ingati betul-betul..

Kau tahu kenapa suara mahasiswa mahal? Kenapa ia didengarkan oleh penguasa negri sekaligus dihormati rakyat? Bukan karena mobil mentereng yang kau pakai, atau parfum harum yang membuatmu keren. Bukan itu.. tapi karna mahasiswa dianggap sebagai kelompok masyarakat yang paling lama mengenyam pendidikan. Paling lama! Dengan kemampuan di bidangnya, ia mengetahui hal itu jauuuuuh lebih baik dari manusia manapun di negri ini. Tambahan lagi, ia bisa bicara atas nama rakyatnya dan menegur penguasanya.

Dan bagaimana kalau keadaannya dibalik? Ia orang yang tidak begitu tahu mengenai keilmuannya sendiri? Bahkan yang ia pelajari bertahun pun tidak ia kuasai, bagaimana dengan bidang lain? Orang lain tidak tuli dan buta. Mereka menyaksikan. Dan mereka menunggu apa yang dikobar-kobarkan benar adanya.

Memantaskan diri. Mungkin itu jawabannya. Bagiku, dan bagi semua mahasiswa di Indonesia. Menjadikan dirinya pantas dengan bidang keilmuannya, mahir, mengerti lebih baik dari pada orang lain. Menjadikan ilmu-ilmu itu tidak hanya bersemayam di teks-teks tua, tapi hadir dalam meja makan dan ruang keluarga semua masyarakat kita. Karna hakikatnya ilmu itu cahaya, menerangi yang gelap.

Aku, mahasiswa yang sedang mencari jawab kenapa hasil penelitianku seperti ini dan seperti itu. Mencari jawab kanapa aku masih saja belum menemukan jawaban. Dan kemudian memunculkan pertanyaan baru: pantaskah aku disebut sarjana?

*selamat menempuh ujian di awal 2013 nanti, baik yang ujian UAS, maupun pendadaran. semoga barokah. ilmu yang barokah, sarjana yang barokah.

Thursday, December 27, 2012Library of Engineering Faculty

2 thoughts on “Sarjana?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s