Home

Setting
Lokasi: cafetaria
waktu: istirahat makan siang
Sy: saya, mahasiswa yang bekerja partime sebagai pengajar “bahasa Indonesia” untuk para foreigner
Md: Murid, adalah salah seorang foreigner (lahir dan besar di Prancis, kemudian pindah k US). Sekarang sedang belajar “bahasa Indonesia” di Yogyakarta. Dia dan suaminya berada di Indonesia karena bekerja pada salah satu perusahaan multinasional yang berlokasi di Papua.

…. [saling bercerita, panjang lebar mengenai banyak hal, sembari makan siang. kami menggunakan bahasa indonesia patah-patah, sesekali dengan bahasa inggris] …

Md: jadi, asal kamu dari mana? yogyakarta?
sy: bukan, saya berasal dari jawa tengah
Md: ooh, kota mana?
sy: Pekalongan, Kota Batik. kamu tahu batik?
md: sure. batik, beautiful. bukan kota batik itu solo dan yogyakarta?
sy: wah, bukan. batiknya beda
md: u wrong. bukan “beda”, u should say  “berbeda” (terus  dia ketawa, saya juga ikutan ketawa)
sy: yes, I was wrong. The correct one is “berbeda”😀
========================================================================

Lucu sebenarnya, saya yang notabene adalah native dalam bahasa Indonesia, yang ngajar pula, dikoreksi oleh orang yang baru belajar bahasa Indonesia selama 1 bulan…yang dalam berkatapun ia masih patah-patah. saat mengajarnya pun menggunakan bahasa inggris, karna yang diajar belum tahu betul dg bahasa indonesia.
tapi tanpa segan dia (murid) mengoreksi gurunya, karna memang dalam hal ini gurunya salah, menggunakan kata yang salah.

mari menarik kejadian tadi secara umum…kita bawa dalam segi kehidupan kita yang lain.

apa yang terjadi siang ini pada saya yg saya ceritakan diatas, adalah yang simpel, dan biasa terjadi di kehidupan sehari-hari. siapapun bisa salah, tidak peduli ia adalah adik yang usianya dibawah kita, atau pekerja/karyawan terhadap bosnya, atau murid/mahasiswa terhadap guru/dosennya. itu saja? apakah yang posisinya lebih kecil atau lebih ‘rendah’ adalah yang selalu salah? tentu tidak…Guru juga bisa salah, kakak juga sangat mungkin untuk salah, bahkan pemimpin juga bukan orang yang terjamin dirinya bebas dari segala salah.

karna semua orang adalah sangat mungkin untuk salah, maka sudah sepatutnya setiap orang mempersiapkan diri untuk diperingatkan, atau dikoreksi oleh orang lain. kapanpun waktunya. karna kadang kita tidak merasa bahwa yang kita lakukan adalah sebuah kesalahan. bisa karna kesalahan tersebut sangat halus, atau karna saking sudah terbiasa berbuat salah, maka ia tidak menganggap itu sebagai kesalahan. dalam konteks yang lain, ada juga yang mengatakan “orang yang sudah terlalu sering berbuat maksiat, kadang tidak merasa bahwa yang ia lakukan adalah sebuah kemaksiatan”

pertama adalah mempersiapkan diri untuk dikoreksi kapanpun waktunya, yang kedua adalah berani untuk mengoreksi orang lain yang salah. menurut saya dua hal tersebut adalah vital bagi manusia jika menginginkan dirinya berkembang. tidak hanya berjalan dengan navigasinya sendiri, namun juga melihat refleksi diri dari kacamata orang lain.

tidak ada seorangpun, satu organisasi/lembaga/perkumpulan mana pun yang superpower dan terbebas dari kemungkinan berbuat salah. dan jika menemukan hal yang salah dari orang lain, ya koreksi, beri advice bagaimana yang benar, bukan hanya menyalahkan.

wah, ngomong apa sih saya ini? ya intinya ini pandangan saya tentang sebuah kesalahan. pandang ia sebagai sebuah pembelajaran, selalu bersiap siaga untuk diingatkan, dan jangan segan pula untuk mengingatkan yang lain.

3 thoughts on “Kesalahan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s