Home

Aku memulai datang ke kampus ini dengan berjalan sendiri. benar-benar sendiri. Menjejaki setiap cone block yang ada di Fakultas Teknik. Seorang diri.

Sore ini, ba’da magrib ini, aku kembali berjalan melewati jalan-jalan yang telah kulalui hampir 3,5 tahun lamanya. sama juga, seorang diri.

Mungkin karna hakikatnya kita diciptakan dari kesendirian dan akan kembali pada kesendirian seperti pada permulaannya. Tidak peduli berapa banyak orang yang menemanimu diantara dua jeda waktu itu. Toh pada akhirnya, di ujungnya, kita dihadapkan pada sebuah kesendirian juga.

Hidupku 2 hari ini sungguh random. Datang tanpa bekal, tanpa persiapan. Berbicara seadanya didepan orang yang tahu hampir semuanya, sedang aku sangat ‘irit’, hanya yang kutahu saja, tanpa menambahkan dan tanpa mengurangi. Dan mungkin orang ‘irit’ lah yang dianggap sesuai.

Mengerjakan basic engineering (math, physics, electric, and general) dengan sangat seadanya, seingatnya saja. Dan mungkin setelah dihitung-hitung aku dianggap cukup bisa diajak kompromi soal engineering.

Apalagi? Berada dalam sebuah kelompok dengan para jenius. mereka hampir tahu semua. sedangkan aku? aku? bahkan 2 menit pertama aku roaming, tidak mengerti apa objective nya. baru setelah semua orang berbicara ngalor ngidul, aku menjadi pendengar setia dan penanya setia, aku baru mengerti. aku ikut mengerjakan projectnya sesuai bagianku. Dan kau tahu, kelompokku inilah yang menjadi winner diantara belasan kelompok jenius yang lain.

Kerandomanku yang paling puncak adalah hari ini. mungkin orang lain bilang ‘congratulation’. beberapa bilang ‘minta tips nya’ atau ‘kok bisa sih des, bagi2 dong’. Tahukah kalian apa yang aku rasakan? aku sungguh merasa sangat random.

Hari ini aku melihat mereka, orang2 yang kukagumi diantara semua yang ada di pendopo itu, mengayuh satu dayung dan melewati sebuah pulau. Aku, entah dari mana asal muasalnya, aku mendayung 1 kali dan melewati 2 buah pulau. ini sungguh random. Mungkin kerandoman inilah sebenar-benar ujian.

Aku tidak tahu kerandoman macam apa yang sedang kubuat. keributan dalam hidup yang separah apa. Kata-kata mereka masih terngiang di telingaku: ‘u’ll be in the middle of nowhere’, ‘what about your husband?’, ‘are u really sure?’

Believe me, I also questioning about what I’ve did in the past 2 days. Am I ready for this? or wanna run away?

Bagiku ini sungguh sangat random. Aku tidak tahu apa yang telah kulakukan dan apa yang akan kulakukan dengan kerandoman itu. Aku memilih untuk tidak segera pulang, berusaha menjejaki setiap inci yang pernah kusentuh 3,5 tahun yang lalu.

Dulu, aku datang kesini dengan sejuta harapan dan kecemasan. Sekarang aku juga akan meninggalkan tempat ini, masih dengan sejuta harapan dan kecemasan.

4 thoughts on “My (Very) Random Life

  1. semangat ya mba desti
    keputusan apa pun yang mba pilih (meski aku tetep ga ngerti kejelasannya) yang penting jangan lupain variabel ‘Allah’ aja😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s