Home

Di dinding kamar, saya memasang sebuah kalender tahunan. Fungsinya tentu saja untuk memudahkan mengetahui bilangan waktu: hari, bulan, tahun. Meskipun sebenarnya di HP pun ada aplikasi kalender, bahkan lebih canggih, bisa ditambahi memo, alarm, dsb.

Bagi saya kalender tahunan memiliki makna tersendiri selain dari fungsi pada umumnya tadi. Kalender tahunan membantu saya untuk melihat bilangan waktu secara menyeluruh. Apa yang sudah saya lakukan di bulan A, B, C.. Apa rencana saya untuk bulan X, Y, Z.. Dimana saya telah berada pada bulan D, E, F… atau dimana saya akan hidup pada bulan S, T, U..

bagi saya semua itu penting.

karen ahidup adalah satuan yang tergantung pada variabel waktu. Seorang manusia dilahirkan, menangis ketika balita, bermain dengan teman SD, jatuh cinta dengan kapten basket di masa SMP, berambisi pada lusinan perlombaan saat SMA, dan mencoba mencari jati diri saat kuliah. Setelah itu apa? Menikah dengan orang yang dicintai dan/atau mencintainya, memiliki anak, tua dikelilingi kedamaian, mati… secepat itu.

Jika waktu bukanlah bilangan yang penting, tiap detiknya, menit, hari, bulan, tahunnya… semua itu hanya akan lewat begitu saja dan tanpa sadar kita sudah berdiri di ujungnya.

Ketika masuk kamar saya, salah seorang teman bertanya “Kamu nggak tertekan des dengan kalender tahunan? Aku kok merasa kurang nyaman ya, karna kita seperti dihadapkan dengan bentangan waktu yang sudah dan yang belum”, saya jawab “enggak mbak..”

Saya jadi berpikir..jika ada orang yang merasa tertekan dengan kalender tahunan, tentu itu haruslah saya. Saya mencatat tahun 2012 sebagai tahun yang penuh dengan pertempuran batin. Juli Agustus berusaha mengambil hati orang-orang, September dalam kebekuan perasaan, Oktober November yang pebuh gairah dan harapan, dan Desember yang menghancurkan. Sekali lagi, jika ada orang yang sangat tertekan, itu adalah saya.

Menata kembali kepingan harapan dan gairah di 2013 tidaklah mudah. Kemudahan dan kesulitan datang seperti pedagang asongan yang menawarkan jajanan. I’m not make a deal with luck or bad luck. I’m gonna make a deal with God, ones who knows my fate entirely. Tuhan, padaNya lah saya akan buat kesepakatan. Bukan tentang keinginan, tapi tentang pengharapan dan cita-cita.

Sudah hampir 3 bulan mesin waktu 2013 berjalan, saya ajak berkompromi. Apa yang sudah saya lakukan? Mencoba melaksanakan kewajiban, memanfaatkan peluang, dan bertarung dengan kesabaran. Yang terakhir adalah yang tersulit. Karena saya sudah terlalu sering dikagetkan oleh kekalahan dan kegagalan. Adalah benar itu menjadi antibodi tersendiri. Itu memberikan saya sejuta alasan untuk menyerah dan putus asa.

2013 tetap saja berjalan bagaimanapun keadaan kita. Dan saya sebagai manusia hanya punya 2 pilihan: menyerah pada kegagalan dan berkawan dengan keputusasaan, ATAU menemukan sejuta satu alasan untuk tetap berdiri pada keyakinan dan mengundang datangnya kemenangan. Saya akan pilih yang ke-2, meyakinaninya. Karna seperti yang dikatakan oleh Roosevelt, bahwa kemenangan adalah milik mereka yang meyakininya.

Welcoming Victory.
I hope you are with me.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s