Home

Seperti pagi-pagi yang lain, kemaren pagi saya juga pergi jogging ke GSP, menamatkan beberapa putaran, dan kembali ke kediaman dengan baju yang sudah basah oleh keringat. Karna saya tahu sudah tidak ada laki-laki dikosan (biasanya ada bapak2 penjaga, tapi sekitar jam 6an beliau sudah pergi), maka dengan santainya saya menuju kamar mandi tanpa menggunakan jilbab. namun ketika keluar dari kamar mandi saya hampir berteriak karna melihat sesosok orang tanpa rambut (rambutnya dicukur habis seperti para biksu), duduk di kursi roda, dan melihat ke arah saya. Yang pertama terlintas di benak saya adalah: dia lelaki, bukan muhrim, dan saya dengan pede nya nggak pake jilbab lewat di depannya. parah!

Untungnya saya segera menutup mulut dengan handuk. Karna setelah diperhatikan, beliau bukan laki-laki, tapi seorang perempuan yang bertubuh agak besar, dan dicukur habis rambutnya. Selain itu, di kepala sebelah kanan, ada bekas jahitan dari atas alis mata sampai ke atas telinga. Setelah menyadarinya, saya balik melihat mbaknya, tersenyum, dan berpamitan untuk kembali ke kamar.

beberpa menit berlalu dan akhirnya ketika saya mengeluarkan motor dari garasi, hendak berangkat ke kampus, saya bertemu dengan ibunya mbak tadi. Di depan garasi kami bercakap-cakap sebentar

Ibu         : adek sudah mau berangkat?
saya       : iya bu. ibu yang tinggal di kamar yang baru itu ya?
ibu          : iya, baru pindah kemaren malem. Adek kuliah dimana?
saya       : di UGM bu
Ibu         : wah, anak saya juga di UGM lho. Ibu bangga sekali, sekarang sudah S2 anak ibu. [dengan nada yang sangat gembira]
saya       : oya, fakultas apa bu? kalo saya fakultas teknik
Ibu         : S2 Farmasi. Kemaren baru operasi kanker otak. Adek sudah ketemu anak ibu belum? Itu lho, yang ada bekas jahitn di separoh kepalanya. Makanya ibu kesini jagain. Ini pindah kos karena kosnya yang lama di lantai 2. Sekarang anak ibu pake kursi roda, jadi susah kalo harus naik turun tangga.
saya       : [speechless] ooh, iya bu. masya Allah.. sudah bu, tadi pagi sudah ketemu.

Dari perbincangan singkat sebelum saya berangkat ke kampus itu, rasa penasaran saya terjawab sudah. Pertama, orang yang saya temui tadi pagi setelah saya keluar dari kamar mandi, adalah benar wanita. Kedua, sebab beliau di cukur habis rambutnya dan memiliki bekas jahitan yag sangat panjang, adalah karena operasi kanker otak..

Sampai saat ini, saya masih speechless. Saya bingung harus bilang apa ketika ketemu lagi. Ketika melihat beliau lagi di sore hari, masih dengan posisi yang sama, di dekat kamar mandi, menghadap ke taman, di atas kursi roda.. pandangan beliau kosong. Sekilas saya amati, beliau adalah wanita yang cantik. Kulitnya putih bersih, kekuningan seperti wanita asia pada umumnya. Matanya bulat coklat kehitaman, dengan garis mata yang tegas, namun pandangannya kosong. Hidungnya tinggi. Hanya adal 2 hal yang agak ganjil selain dari bekas jahitan di kepalanya: badannya yang terlampau besar, mungkin karena pengaruh obat-obatan selama beliau dirawat di rumah sakit; dan dan kepala yang terus serong ke kanan, entah apa sebabnya, dan dengan demikian wajahnya kurang terlihat simetris. Selain dari pada itu, jika beliau menggunakan jilbab dan menyembunyikan bekas luka di kepalanya, beliau pasti terlihat cantik dan normal seperti wanita lain..

Ya Allah.. biasanya setiap kali pulang ke kos saya merebahkan badan dan membuang semua kegelisahan. Memutus habis permasalahan diluar sana, relax.. dan rasa relax, tenang, tanpa beban itu kadang membuat saya lupa pada banyak hal, lupa akan nikmat yang Allah berikan. Lupa pada kaki yang sanggup berjalan jauh, bahkan lari setiap pagi, lupa akan kekuatan itu. Lupa pada kepala yang sehat, dapat berpikir dengan baik, mengerjakan soal ujian. Lupa pada mata, tangan, perut, lengan, telinga, rambut, hidung, yang semuanya sehat..

Apa jadinya jika Allah mencabut nikmat-nikmat itu? … tidak ada lagi lari pagi, tidak ada lagi menyisir rambut, tidak ada lagi memandang ke arah manapun yang kita mau…

Saya jadi malu sendiri. Beberapa bulan terakhir saya melakukan medical checkup (dalam rangka recruitment suatu perusahaan) seluruh tubuh dari ujung kaki ke ujung kepala tanpa terkecuali: rontgen dada, paru-paru, audiometri, THT, mata, gigi, darah (termasuk tes HIV, kolesterol, dsb), urin, feses, USG, jantung, tread mill, semuanya… dan ketika dinyatakan sehat oleh hospital/klinik yang bersangkutan, mendapat email dari perusahaan dengan bunyi “Dear Destiana, Congratulation! You are declared fit by our doctor.”, kata pertama yang meluncur adalah “Alhamdulillah, saya lolos medical checkup.” Naïf sekali. Malu saya sekarang. Harusnya lebih dari apapun, yang pertama harus saya syukuri adalah: saya sehat. Sudah 2 kali medical checkup dan saya dinyatakan sehat. Itu jauuuuuuuuuuh lebih penting dari lolos atau tidaknya medical checkup..

Terimakasih Ya Allah, Engkau telah anugrahkan kesehatan pada kami. Saya dan keluarga. Terimakasih Ya Allah, untuk membuka pikiran saya yang sempit itu, dengan mendatangkan hamba-Mu yang luar biasa. Berilah ia kesehatan segera Ya Allah, sembuhkan  dari penyakitnya. Ukirkan senyum di wajahnya, berikan ketabahan dan kekuatan menjalani semua itu, dan jadikan sakitnya sebagai penggugur dosa.

3 thoughts on “Medical Checkup dan Kanker Otak

  1. #ikutspeechless

    syafaahallaahu syifaa-an ‘aajilan, syifaa-an laa yughaadiru saqaman

    smoga kita semua senantiasa sehat dan semangat, menjaga sehat dan semangat, menyehatkan dan menyemangati, dikuatkan untuk sehat dan semangat

  2. Alhamdulillah nyasar ke sini.. keren! alim, jago pula gawe di slb.. suka bgt sama tulisanmu mbak. keep update yah mbak😀 Cheers.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s