Home

Hidup adalah perjalanan super panjang yang sering kita tidak tahu mana ujung dan mana pangkal. Apa itu usia? Sepertinya bukan. Kita sudah lebih dulu ‘hidup’ sebelum dilahirkan dan akan kembali ‘hidup’ bahkan setelah hembus nafas yang terakhir.

..ujungnya bukan usia, bukan pula dunia, tapi cinta Maha Cinta…

Setiap kali kita sampai pada suatu ujung perjalanan, itu artinya kita baru saja memulai perjalanan yang lain. Anak sekolah, berpayah-payah dalam Ujian Nasional, ujian masuk PTN, dan diterima di PTN idamannya, itu senangnya bukan main. Setelah mulai kuliah barulah dia sadar bahwa memenangkan suatu pertandingan berarti memulai pertandingan yang lain. Lalu kuliah bertahun-tahun, perjuangan menyingkirkan C, D, bahkan E, skripsi Masya Allah beratnya, lalu kemudian lulus. Dan setelah lulus itulah perjuangan baru saja diakhiri sekaligus dimulai. Kemudian apa? Bekerja di tempat yang diimpikan jutaan orang, seperti halnya memenangkan pertandingan dan tentu saja memulai pertandingan yang lain, tantangan yang sama sekali lain.. entah atasan yang kurang cocok, atau bawahannya, atau teman-temannya, atau semuanya cocok tapi tantangan kerjanya yang luar biasa. Setelah itu? Aku belum tahu. Mungkin seperti yang ibuku katakan, semua orang punya tantangannya sendiri-sendiri. Orang yang sudah menikahpun punya tantangannya, bahkan lebih kompleks.

Yang bisa kita lakukan sekarang adalah berusaha dan bersabar, bersyukur.. dan mengingat bahwa orang lain pernah mengalami fase-fase ini, hal berat yang kita alami sekarang, orang lain juga mengalaminya. Semua tantangan itu, jika mau ditulis, tidak akan pernah ada habisnya, karna ujung dan pangkal selalu dan akan selalu ada.

Lalu dimana istirahatnya? Bagi seorang muslim, tempat istirahat hanya ada satu: Syurga.

Andai di Syurga bisa request, aku sering membayangkan tinggal di sebuah rumah di dataran tinggi yang sejuk, rumahnya berukuran sedang dan semuanya terbuat dari kayu, hangat, berwarna coklat alami. Halaman depannya ditumbuhi rumput hijau yang subur, juga pohon cemara yang tinggi. Halaman belakangnya berhadapan langsung dengan laut landau berwarna biru, ombak yang tidak terlalu besar, juga ikan-ikan yang terlihat dari permukaan. Lalu aku, suamiku, anak-anak dan cucu-cucuku, bapak ibu dan keluargaku, duduk-duduk di serambi belakang, menghadap kea rah laut, ditemani matahari sore yang hangat. Rambutku berwarna ungu dan suamiku berambut abu-abu, wajah kami merona segar, tersenyum dan mendengarkan kisah-kisah lucu.

Ah..itu khayalan.. kapan syurganya? Tentu sangat dirindukan, ujung perjalanan yang sebenarnya..

 

Balikpapan, 8 Juli 2013

Menyongsong awal ramadhan.
Dengan penuh kerinduan akan tawa kita nanti di ujung perjalanan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s