Home

Masih tengah malam ketika saya terjaga pagi ini. Jam 12 malam lebih tiga menit. Berarti 3 jam sudah saya mengembara bersama mimpi2 indah dalam buaian ombak delta sungai Mahakam, daerah peralihan antara delta sungai dan laut selat Makassar. Yup, saya sedang onboard sekarang.. di salah satu barge segment saya tercinta ini.

Saya memang cenderung lebih mudah terjaga ketika lagi naik offshore begini (maaf ya, supaya lebih mudah saya sebut offshore, padahal sebenarnya gak offshore/lepas pantai banget. Supaya mudah aja). Kenapa? Karna saya berbagi kamar dengan 3 laki-laki yang sama-sama job supervisor atau engineer in charge. Nggak usah membayangkan yg tidak2..disini semuanya aman terkendali. Walopun kami sekamar, bahkan ujung kaki temen sekamarpun tidak bisa kami lihat, sudah ada sistem keamanan privasinya. Buat wanita, aman saja.

*Biarpun begitu, jika kau wanita normal, pasti akan merasakan kewaspadaan tersendiri, yang tanpa kita sadari sehingga membuat kita seperti ‘terjaga’ walopun tidur lelap. Sedikit perubahan frekuensi suara akan membuat terbangun dan mudah terjaga.

Yaa..dan pagi ini, ketika bangun tadi, saya mendapati 2 orang supervisor masih tertidur lelap (dari tanda2 ditutupnya gorden mereka), dan satu orang dalam pekerjaannya diluar sana. Saya sendiri, kemudian turun dari ranjang, ambil wudhu, dan pergi ke mushola.

Singkat cerita, sekembalinya dari mushola, saya langsung ngeluyur ke office. Saya haqqul yakin 100% nggak ada orang antara mushola ke office. Pun di office, saya yakin banget lagi nggak ada orang..karna ketika lewat tadi saat menuju mushola, saya tidak melihat seorangpun. Iyalah, ini tengah malam! Semua orang terlelap kecuali yang sedang shift malam dan pastinya mereka nggak di office. Daaan..oleh karena hal tersebut diatas, dan karena bisikan syaithonirrojim..saya ngeluyur ke office tanpa menggunakan kaos kaki.

*saya mengambil pendapat bahwa seluruh tubuh kecuali wajah dan telapak tangan adalah aurat. Jadi, kaki saya ini adalah aurat dan wajib ditutupi. Karena setiap centimeter dari aurat kita yang dilihat oleh bukan muhrim, akan dimintai pertanggungjawabannya olehNya

Mushola, muster point 1, dan pantry aman. Nggak ada orang. Masuk office, eh ternyata ada seorang bapak yg saya kenal. Pak Rahmat namanya. Beliau adalah company man dari TOTAL. dan ternyata bapaknya memang baru datang tengah malam ini. Refleks saya langsung duduk dan ngumpetin kaki yang tak berkaos kaki dibawah meja. Menyapa beliau, dan kami ngobrol sebentar tentang job yang akan datang di barge ini.

Yang membuat saya tersedak, dan hati terasa jleb-jleb adalah ketika diakhir obrolan, beliau bertanya basa-basi..”Desti kapan school jadinya?” saya jawab “awal bulan depan Pak”. Dan entah kenapa setelah itu pak Rahmat menasihati saya “Pesen Bapak ya Des..nanti kalo udah jadi engineer beneran, udah lebih kemana-mana lagi, ketemu orang yang lebih berbeda-beda suku dan kebudayaan lagi, tetaplah jadi Desti yang sekarang. Prinsip tetap dijaga. Bukan apa-apa Des, ada dulu temen Bapak, cewek, masuk Schlumberger (Slb), lama-lama buka hijab..lama-lama ikut budaya minum-minum karna saking sudah biasanya, ngrokok dan sebagainya. Karna saya lihat, Slb jauuuuh lebih multi etnik dari perusahaan luar manapun, termasuk perusahaan tempat saya bekerja. Jilbab jangan dikurangi panjangnya, ngaji jangan dikurangi jumlahnya..”
Tentu saja saya jawab “iya Pak, insya Allah. Mohon selalu diingatkan Pak”

Kenapa ini menyentak saya? Padahal sudah puluhan peringatan serupa saya peroleh dan biasanya biasa-biasa saja. Bahkan kadang merasa (maaf) jengkel, karna terkesan menyudutkan, menghakimi, memandang rendah.. Mungkin karna Pak Rahmat mengatakannya dengan cara yang tepat tanpa menghakimi dan karna saya baru saja menyimpang dari aturan. Saya baru saja melepas apa yang biasa saya pakai (kaos kaki), walopun itu hanya beberapa menit, walaupun saya yakin dan jamin tidak ada seorangpun yang melihat termasuk Pak Rahmat.. pertama kaos kaki, mungkin lama-lama bisa merambah ke yang lain. Siapa yang tahu? Astaghfirullah..

Allah mendatangkan peringatan pada saya pagi ini lewat Pak Rahmat. Bahwa peraturan, prinsip, sekecil apapun, adalah pantang untuk dilanggar! Saya yakin kok, Pak Rahmat bukan orang yang ‘niteni’ saya adalah orang yang biasa pakai kaos kaki, atau model perempuan yang sll pake kaos kaki. Tapi peringatan itu datang disaat yang tepat. Kalau bukan Allah yang mengaturnya, siapa lagi?

Akhir kata… berada disini adalah sekolah tersendiri bagi saya. Bukan hanya dari segi teknik/engineering yang memang sangat berlimpah dengan aneka ilmu pengetauan yang tidak saya dapatkan saat kuliah.. tapi juga dari sisi pelajaran kehidupan yang didapat.

Setidaknya saya menjadi punya banyak cerita untuk anak-anak saya nanti. Bisa jadi kan, ketika anak saya nanti lagi uring2an males belajar, saya akan katakana “lho..kamu belajar dirumah nyaman gini kok males to le..dulu yaa, ibu belajar sampe tengah malem, bahkan kadang sampe pagi, bukan dirumah nyaman seperti ini, tapi di kapal, ditengah laut, disungai..”. atau ketika anak permpuan saya males pake jilbab, saya akan bilang “ayuk, pake jilbabnya, kaos kakinya dek..kok males to? Ribet? Cuma sebentar kok itu. Hmm..ibu dulu pernah lho pake jilbab seperangkat lengkap selama 24 jam x 7 hari x beberapa minggu. Hanya ibu copot waktu di kamar mandi saja. Gimana? Masih males?”

Dalam towing menuju Tunu Field, TOTAL E&P Indonesie
OFS-01 Barge.

18 September 2013, 2:53 AM

12 thoughts on “Kaos Kaki

  1. baru blogwalking dan menu blog ini, hehe. lama gak ketemu mbak. masih inget kan anak VT satu ini? asik nih schoolnya minggu depan🙂 MLC mbak? btw, udah di KBC atau masih di PMC?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s