Home

Dear Mr. Husband, how’s life? Semoga baik-baik saja disana. Aku disini baik, sedang menikmati goyangan ombak Tunu Alfa-Alfa yang luar biasa. Bahkan para pekerja yang sudah puluhan tahun di kapal inipun banyak yang sedang mabok dibuatnya. Tidak perlu oplosan seperti yang dibilang di tipi-tipi itu.. datang saja kemari jika ingin pusing dan muntah😀

Aku masih punya 4 jam menanti datangnya waktu handover meeting pagi. Maukah kau mendengar ceritaku?

I’d like to tell you something, Honey… Aku sangat bersyukur bisa bertemu dengan banyak orang baik. Banyaaaaak sekali, semenjak dulu sampai sekarang. Aku yakin kamu pun demikian, kan? Allah hadirkan orang baik itu, adalah rejeki tersendiri buatku (dan buatmu), juga ternyata ujian juga buatku (tentu buatmu juga).

Kawan-kawanku itu sangat baik, Sayang… Aku masih ingat pertama datang di Balikpapan, sendiri tanpa seorangpun kawan karib. Makan-tidur-olahraga-kekantor semuanya sendiri. Sepi dan sedih sekali. Tapi tiba-tiba entah dari sudut sebelah mana Allah pertemukan aku dengan mantan pembina halaqoh Qur’an ku dulu semasa kuliah. Beliau sangaaat baik. Beliau pula lah yang antarkan aku ke banyak tempat di Pulau Borneo ini. Juga yang pertemukan aku dengan lingkaran yang sangat dirindui. Semoga Allah senantiasa manyayanginya.. Seperti sayangnya dia yang, ketika aku sakit (sampe bed rest di rumah sakit) beliau datang tiap sore, bawakan masakan, memasakkan untukku yang saat itu hanya bisa makan bubur. Padahal dia juga bekerja, juga pulang sore tentu dengan segala kelelahannya. Tapi dia pandai, bubur yang dia buat macam-macam rasanya, juga konon katanya (menurut dia sendiri) penuh dengan kandungan gizi. Aku percaya saja😀 Semoga Allah selalu menyayanginya. Semoga Allah selalu menyayanginya…

Kawan-kawanku itu sangat baik, Sayangku.. Ada yang korbankan waktu berharganya hanya untuk menemaniku bermain-main. Menemani suntukku yang sudah tidak bisa dibendung. Dia lakukan banyak hal untukku, dari membelikan obat mag sampai menungguiku yang berjalan seperti siput. Seperti kasus bubur yang tadi, sahabatku yang satu ini juga terlampau baik pada ku, sejak kuliah di jogja dulu sampai sekarang aku sangat jauh berada di balikpapan. Sampai hal sepele seperti membetulkan spion motor.. , Sayangku, aku beruntung mengenalnya, seperti juga banyak orang beruntung mengenalnya..Dia orang yang selalu dipenuhi dengan kebaikan.. Semoga Allah selalu menyayanginya. Semoga Allah selalu menyayanginya…

Ada lagi, Honey.. Seorang sahabat yang aku rasa jodoh betul dengannya :’D Dari skripsi kita bersama (walo beda jurusan), satu kontrakan kemudian satu asrama selama di jogja, sampe dengan suatu hari yang melelahkan aku berkereta dari Surabaya-Jogja juga bertemu dengannya. tanpa sengaja. Dia tahu semua cerita galauku.. dia tahu saat paling galau dalam hidupku saat menentukan kemana aku pergi seusai kuliah. Dia yang mendukungku ketika kebanyakan mencibir..dia yang bantu aku mempertimbangkan ini dan itu.. Aku saaangat mencintainya..aku mencintai cita-citanya yang baik, aku mencintai caranya bercerita tentang hidup, aku menyukainya sebagai sahabat yang tak pernah meninggalkanku apapun keadaanku..Semoga Allah selalu menyayanginya. Semoga Allah selalu menyayanginya…

Tapi sayangku, tidak semua kebaikan itu berujung manis. Kadang kita yang terlampau hina dalam menerima kebaikan, menjadikan ianya bengkok dan berujung pada kekhilafan..Itulah kenapa selalu ada jarak tertentu yang harus kita jaga kepada orang lain. Bahkan kepada kawan karib sekalipun, bahkan seperti aku padamu. Ada sebuah ruang di hati yang sekali tersentuh sulit sekali kembali ke keadaan semula. Ibarat atom, keadannya tidak steady state, namun transient.

Kebaikan itu sendiri pun kadang menjadi ujian… Ujian akan perasaan kita. Seberapa jauh kita bisa bertahan dan menahan. Dan jujur kuakui, itu saaangat sulit.. Setiap orang pasti pernah mengalami ujian perasaan ini, semoga kita termasuk orang-orang yang bisa lulus dengan baik dan tidak terbawa pada hanyutnya perasaan.. bisa bertahan dan menahan..

Kamu pasti mulai bingung kemana arah bicaraku? Iya, aku juga bingung :’D

Hah! Intinya aku ingin sampaikan padamu, aku sungguh sangat bersyukur memiliki sahabat-sahabat terbaik.. 3 yang kusebut diatas adalah salah tiga dari sekian banyak sahabat ku.. Kamu harus mengenalnya. Seperti aku ingin mengenal sahabat-sahabat baikmu juga. Bukankah aku juga sahabatmu? Dan orang juga berkata, persahabatan paling indah adalah pernikahan…

Sudah lewat dari jam 2 malam sekarang.. Ombak masih bersahutan menendang tak mau diam. Seperti juga aku yang tak ingin diam. Aku ingin bercerita denganmu sekarang. Tapi aku harus menunggu, kan? Menunggu sampai Allah tampakkan dirimu didepanku lengkap dengan segala ceritamu. Menunggu sampai kita sama-sama pantas untuk bercerita dan berkisah. I’d love to stay all night listening your stories :’)

Selamat malam Mr. Husband.. I’ll back to my work! Terimakasih telah medengarkan ceritaku😀

 

Mahakam, 6 september 2014

23 thoughts on “Dear Mr. Husband

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s